Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Selasa, 26 November 2019

Essai : Improvement of Governance System Regrading to Industrial Revolution 4.0 in the Era of Demographic Bonus for Indonesia Development

TERPINGGIRKANNYA TENAGA KERJA MANUSIA SEBAGAI REKOGNISI REVOLUSI INDUSTRI 4.0 MENUJU ERA DISRUPSI



Alih Fungsi Tenaga Manusia Menjadi Robotic

Saat ini dunia tengah memasuki era disrupsi teknologi yang bergeser pada era Revolusi Industri 4.0. World Economic Forum (WEF) menyebut Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi berbasis Cyber Physical System yang secara garis besar merupakan gabungan tiga domain yaitu digital, fisik, dan biologi. Ditandai dengan munculnya fungsi-fungsi kecerdasan buatan (artificial intelligence), mobile supercomputing, intelligent robot, self-driving cars, neuro-technological brain enhancements, era big data yang membutuhkan kemampuan cybersecurity, era pengembangan biotechnology dan genetic editing (manipulasi gen). Perkembangan teknologi industri pada saat ini tentu saja sangat berkembang. Dimana perkembangan itu bukan saja mempengaruhi sebuah teknologi, tetapi juga mempengaruhi tenaga kerja. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa teknologi pada revolusi industri diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Disatu sisi memang menguntungkan bagi manusia yang mungkin mempunyai modal akan tetapi di sisi lain banyak nya tenaga kerja yang mulai berkurang akibat efisiensi dari sebuah teknologi revolusi industri.

Revolusi industri pertama terjadi di Inggris pada tahun 1769 di mana penemuan mesin uap oleh James Watt dan mekanisasi mulai menggantikan pekerjaan manusia. Revolusi yang kedua terjadi pada akhir abad ke-19 di mana mesin-mesin produksi yang ditenagai oleh listrik digunakan untuk kegiatan produksi secara masal. Penggunaan teknologi komputer untuk otomasi manufaktur mulai tahun 1970 menjadi tanda revolusi industri ketiga. Saat ini, perkembangan yang pesat dari teknologi sensor, interkoneksi, dan analisis data memunculkan gagasan untuk mengintegrasikan seluruh teknologi tersebut ke dalam berbagai bidang industri. Industri yang berikutnya angka empat pada istilah Industri 4.0 merujuk pada revolusi yang ke empat. Industri 4.0 merupakan fenomena yang unik jika dibandingkan dengan tiga revolusi industri yang mendahuluinya. Industri 4.0 diumumkan secara apriori karena peristiwa nyatanya belum terjadi dan masih dalam bentuk gagasan (Drath dan Horch, 2014)[1].

Jika kita melihat dari segi sejarahnya pada revolusi industri pertama disana sudah sangat jelas bahwa kehadiran akan sebuah teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan manusia, membuat banyaknya tenaga kerja manusia menjadi berkurang. Apalagi pada era revolusi industri 4.0 yang disebut sebagai era disruptif yang memunculkan berbagai pembaharuan inovasi teknologi bagi industri yang saling bersaing. Dengan demikian adanya pembaharuan inovasi teknologi yang mungkin bisa mengefisiensikan produksi dengan cepat  sehingga membuat lapangan pekerjaan pada revolusi industri 4.0 ini terpinggirkan akibat inovasi teknologi yang sudah semakin canggih dan modern.

Dalam padangan Schumpater (1950) sehubungan dengan hasrat untuk mencipta, maka entreupreuner merupakan figur yang bersedia dan mengimplementasikan ide – ide dan penemuan barunya menjadi inovasi yang berhasil. Dengan technological innovation entreuprenuer mengembangkan output – output baru melalui tahapan proses baru sehingga menciptakan suatu keadaan yang dapat menyingkirkan para pesaingnya dan imitators. Keadaan ini menggambarkan suatu persaingan. Persaingan merupakan proses penciptaan pengetahuan baru dalam sistem ekonomi yang berkompetisi, sehingga menghancurkan lapangan pekerjaan yang ada tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru.[2]

Dalam revolusi industri 4.0 terdapat berbagai dilema disatu sisi menciptakan lapangan pekerjaan yang beragam seperti lapangan pekerjaan pengembang aplikasi sistem ( Aplication Developer System) dalam pengoperasian alat teknologi terbarukan, namun perlu dicatat hal yang demikian diperlukan kemampuan khusus dan sangat terbatas, faktanya angkatan kerja di Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Melansir dari data Kementrian Tenaga Kerja (Kemenaker), total angkatan kerja (usia produktif) mencapai 192 juta orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 128 juta angkatan kerja, 64 juta bukan angkatan kerja produktif (ibu rumah tangga dan lain-lain).  Dari angkatan kerja sebesar 121 juta orang, sebanyak 7,04 juta orang adalah penganggur terbuka. Sementara dalam pasar kerja jumlah pekerja paruh waktu atau setengah menganggur sangat besar sekitar 51 juta orang. Sebanyak 60% berpendidikan SMP ke bawah, sebanyak 27% pendidikan SMA sederajat, dan 12% lulusan perguruan tinggi. Dari komposisi ini angkatan kerja nasional 88% didominasi operator dan hanya 12% memiliki kemampuan perekayasa (engineer). Dari data Kemenaker ini, justru pendidikan menengah ke atas yang banyak menganggur. Hal ini yang harus diantisipasi sejak di pendidikan menengah dan tinggi. Kemudian disisi lain dengan adanya teknologi yang ada akan mengurangi jumlah tenaga kerja manusia yang dipakai dan tergantikan oleh internet of things / robotic of  system.

Berdasarkan penjabaran diatas kita bisa melihat salahsatu contoh kasus sederhana tentang sistem perbankan yang terjadi pemangkasan tenaga kerja akibat lahirnya teknologi terbaru. Jika dulu kantor bank dipenuhi oleh nasabah untuk menarik / menyetor uang serta melakukan transfer mereka sudah bisa melakukannya dirumah melalui aplikasi mobile banking. Praktis, akan tetapi perbankan juga tidak perlu lagi mempekerjakan petugas teller dan customer service. Kelahiran teknologi financial yang turut mengubah wajah perbankan diera sekarang. Sehingga masyarakat dapat memperoleh pembiayaan tanpa harus berinteraksi langsung dengan pihak bank[3].

Perlu kita ketahui bahwasannya revolusi industri 4.0 memiliki hal yang sangat inovatif dalam kemajuan teknologi dan efisiensi, namun dalam usaha industri tidak semua pabrik atau pelaku usaha mampu mengupgrade ke teknologi 4.0 yang berbasis internet of things (IoT) dan membutuhkan biaya yang sangat besar, hanya pabrik berskala besar dengan modal besarlah yang akan menggunkannya, bagaimana industri rumahan yang hanya memiliki modal secukupnya?, pasti akan sulit bagi mereka untuk mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih sehingga pada akhirnya industri kecil akan kehilangan daya saing.


Tawaran Solusi

Dalam hal ini fenomena revolusi industri jelas sesuatu yang tidak bisa kita hindari, mengingat seiring perkembangan zaman yang terus modern serta membutuhkan sumber daya manusia yang khusus, oleh karenanya angkatan kerja yang ada harus mulai berpikir untuk mengasah kemampuan serta keterampilannya untuk bersaing secara kompetitif mengingat lapangan kerja yang sangat terbatas. Namun perlu juga diingat bahwa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dibutuhkan proses untuk membentuknya, oleh sebab itu pemerintah juga harus berpikir bahwa revolusi industri ini merupakan komitmen bersama untuk mencapai kemajuan.

Pemerintah harus berupaya untuk memberikan fasilitas / pelatihan terhadap tenaga kerja dalam hal pengoperasian teknologi industri 4.0, dengan adanya pelatihan-pelatihan tersebut dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan diharapkan tenaga kerja mampu bersaing untuk menghadapi era disrupsi yang akan datang. Senada dengan hal itu pemerintah juga harus memperhatikan posisi industri kecil (Home Industry) dengan cara memberikan kredit / bantuan usaha agar tidak mengalami kemunduran dari persaingan industri besar yang memiliki modal untuk meningkatkan teknologinya.

Untuk menghadapi hal baru memang tak mudah karena diperlukan adaptasi dan pembaruan teknologi otomasi industri di negara ini agar mencapai titik itu, dalam hal ini ada tiga poin yang bisa menjadi rekomendasi pada pemerintah untuk siap menghadapi era revolusi industri 4.0 serta tidak mengesampikan tenaga kerja manusia yang telah ada, yaitu :

Pertama, pemerintah harus memperhatikan betul industri  besar yang ingin mengotomasi dengan jenis pekerjaan yang berat baik fisik dan pikiran serta dengan skala industri besar pula, untuk industri kecil agar pemerintah memberikn subsidi agar mampu bersaing menghadapi revolusi industri 4.0 ini.
Kedua, pemerintah harus lebih banyak memberikan kurikulum pendidikan yang bersifat praktis daripada hanya sekedar teoritis, memaksimalkan potensi guru / pengajar yang kreatif dan inovatif.
Ketiga, lembaga pelatihan harus memiliki standard yang sama dengan yang lain, serta dukungan kerja sama dengan pihak industri dengan materi yang melibatkan industri itu sendiri agar memiliki kesinambungan serta tidak hanya memperhatikan bekal hardskill tapi juga kompetensi softskill.



















DAFTAR PUSTAKA

Irawan, Judith Felicia Pattiwael. Tantangan Bagi Perguruan Tinggi Dalam menyongsong Era digital. Orasi Ilmiah. 2018.
Prasetyo, Hoedi & Wahyudi Sutopo. 2018. Industri 4.0 : Klasifikasi Aspek dan Arah Perkembangan Riset. Vol. 13, No. 1.
Samora, Remon. 2017. id.beritasatu.com/Ketenaga Kerjaan Diera Revolusi Industri 4.0.  diakses pada 31 Agustus 2018.



[1] Hoedi Prasetyo & Wahyudi Sutopo, Industri 4.0 : Klasifikasi Aspek dan Arah Perkembangan Riset, Vol. 13, No. 1, 2018, hlm : 17-18
[2] Judith Felicia Pattiwael Irawan, Tantangan Bagi Perguruan Tinggi Dalam menyongsong Era digital, Orasi Ilmiah, 2018, hlm : 13
[3] Remon Samora, 2017. Ketenaga Kerjaan Diera Revolusi Industri 4.0, id.beritasatu.com diakses pada 31 agustus 2018

0 komentar:

Posting Komentar