Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Esha Farhan Manggala

Bacalah, Semoga Menjadi Inspirasi.

Debat Politik Nasional : Hima PkN 2018

Universitas Negeri Semarang.

Debat Politik : Eglostick 2018

Universitar Negeri Padang.

Debat Hukum

Universitas Muhammadiyah Aceh.

Minggu, 31 Mei 2020

CERITA LEBARAN DI TENGAH PANDEMI II


“Lebaranku suram, karena corona atau ulah negara?”


Penulis : Nia Rahmadhani 

Saya tertarik menyaksikan ulasan dari Mardigu wowik seorang bussinesman yang pernah menjalani study dibidang intelijen, menjelaskan bahwa pandemi Covid – 19 adalah jenis perperangan dunia tanpa senjata, menurutnya herd immunity ditawarkan sebagai salah satu langkah yang paling efektif untuk menekan penularannya. Namun para pemangku kebijakan  mempunyai pandangannya sendiri yaitu dengan penerapan PSBB, Meski penerapannya sudah berlangsung sebelum bulan suci Ramadhan hingga pasca lebaran namun masih belum menampakkan hasil yang signifikan untuk menekan angka penularan, hingga muncul skenario new normal sebagai perwujudan dari harapan presiden Jokowi agar kita segera “berdamai” dengan corona. Insting saya mengkhawatirkan wabah corona ini sengaja ditunggani untuk melancarkan sejumlah kebijakan – kebijakan kontroversial yang bersifat urgent seperti; UU Minerba yang tiba – tiba disahkan, regulasi penggunaan Kartu prakerja, kenaikan iuran BPJS, hingga pembangunan ibu kota baru yang tetap berjalan ditengah kondisi krisis ini. Segudang persoalan itu cukup membuat saya sangat frustasi Sementara Saya sendiri tidak memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menjadi pengkritik yang baik, tapi sebagai warga negara yang merasakan dampak terhadap setiap kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah tentu bukan hal yang nyaman untuk diam saja apabila kebijakan tersebut tidak memberi efek perbaikan atas masalah yang terjadi.
The firts lebaran idul fitri tahun ini saya shalat ied tidak berjama’ah alias sendiri dirumah dikarenakan terlambat datang ke mesjid. Kejadian yang terdengar sangat konyol akibat mood saya ditimpa oleh perasaan sedih menjalani lebaran dengan euforia yang tidak seperti biasanya, selesai shalat saya bermunajat mengadukan perasaan hati yang begitu nelangsa, meneteskan air mata mengiklaskan atas apa yang menimpa kita saat ini, meyakinkan hati saya bahwa semua pasti ada hikmahnya.
Sebagai individu yang merdeka meski disisi lain tengah terkungkung dalam kontrol negara saya terpaksa untuk taat dengan segala kondisi yang diciptakan oleh negara, beberapa diantaranya disaat lebaran ini adalah; gema takbir yang biasanya memeriahkan kampung kini hanya di lantunkan seadanya, melewati hari kemenangan tanpa hiruk pikuk sanak saudara yang biasanya datang dari perantauan, serta menyaksikan semangat silahturrahmi yang memudar dengan dalih virus corona meski kampung saya berstatus zona hijau, dan tradisi libur lebaran dengan jalan - jalan otomatis akan ditiadakan mengingat permberlakuan PSBB, lebaran tahun ini terasa sangat mencekam bagi saya. meski sugesti yang diskenariokan kepada masyarakat mengajak agar tetap bersuka cita meski dirumah aja, hal itu sangat tidak ampuh bagi saya mengingat pemaparan saya pada paragraf pertama,  bagi saya PSBB dan segenap perangkat suksesinya adalah jenis kebodohan/ kesalahan yang diulang – ulang yang diterima sebagai sebuah kebenaran dan lebih picik lagi jika memang dianulir untuk meloloskan kebijakan – kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat.
Meski begitu Orang tua telah mendidik saya bahwa ujian yang kita hadapi meski seberat apapun harus tetap bersyukur, pesan itu kini menguatkan saya. Berusaha keras saya agar tetap open minded dengan semua yang terjadi, saya merenung bahwa ditengah keputus asaan tersebut masih banyak hikmah yang bisa dipetik dari musibah Covid – 19 ini, beberapa diantaranya, yaitu;  menambah intensitas saya untuk berbakti kepada orang tua, saya yang sudah lama menghabiskan waktu untuk kuliah di kota perantauan kini menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk orang tua, membantu beliau menyiapkan semua keperluan menjelang lebaran, dari mulai mengantarkan kepasar, membantu memasak, beres –beres rumah, dll. serta saya merasakan kualitas ibadah yang lebih meningkat dan tentunya terhindar dari penyakit ria. Terakhir, kita semua berharap corona cepat berlalu sehingga lebaran berikutnya tidak dihadapkan pada kondisi yang sama. Amin...

            
           Editor  Penulis : Esha Farhan Manggala

CERITA LEBARAN DI TENGAH PANDEMI


“Pandemi dan Overthinking

Penulis : Lady Daratuka Aderof


“In the Chinese language, the word ‘crisis’ is composed of two characters, one representing danger and the other opportunity.” – Allan Pease.

Pandemi, pandemi, dan pandemi menjadi kata yang tak henti aku baca sejak akhir Desember 2019 hingga saat ini. Semua orang (termasuk saya) pasti pernah mengutuk keberadaan virus ini atau bagaimana pemerintah ‘berusaha’ melawan virus melalui kebijakan atau bagaimana masyarakat saling melempar peringatan, nasihat, ataupun cacian satu sama lain agar mata rantai dapat terputus. Tidak ada satu orang pun di dunia ini selain mereka yang dianggap sebagai elite global oleh penganut teori konspirasi yang mengharapkan tamu yang hadir secara eksponensial ke tubuh manusia ini. Coronavirus atau COVID-19 dengan segala senjatanya bisa dikatakan menjadi subtitusi perang antar negara karena seluruh dunia menyatakan perang dengan virus ini, bagaimana sebuah keputusan bisa menyelamatkan suatu negara.
Tagar #DirumahAja dan anjuran Physical Distancing menjadi salah satu cara memutus mata rantai yang diterapkan seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berbagai prediksi meredanya virus sebelum Hari Raya Idul Fitri 1441 H memberi harapan besar untuk bisa menikmati momen lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Nyatanya, tagar #LebaranDirumahAja ‘terpaksa’ menjadi trending kali ini. Momen lebaran menjadi titik balik saya selama berusaha ‘damai’ dengan virus ini selama tiga bulan sejak kembali ke kampung halaman. Seperti kutipan yang pertama saya cantumkan, saya percaya bahwa virus ini mampu membawa dampak positif dan dampak negatif terhadap diri kita, tergantung bagaimana sudut pandang yang kita imami saja. Oleh karena itu, saya mau berbagi cerita dampak positif saja karena bacaan positif akan mampu membawa pikiran yang baik pula.
Pandemi membuat saya belajar memahami diri sendiri. Belajar bagaimana mengatur emosi yang saya miliki. Overthinking dan insecure adalah sebagian dari diri saya, mungkin juga hampir tiap manusia dan saya berusaha mengontrol itu selama pandemi. Bukan hal mudah tentunya, revisian skripsi yang tak kunjung selesai, tidak tahu nanti kerja apa karena tidak hanya kita saja yang butuh kerja, dan sebagainya. Terlebih lagi, potensi overthinking meningkat karena keberadaan virus ini yang kita tidak tahu kapan akan mereda.
Pemikiran berlebihan mengenai masa depan yang entah seperti apa ternyata membuat beban pikiran karena berusaha menciptakan skenario-skenario drama kehidupan yang abstrak sehingga tiba-tiba secara tidak sengaja merendahkan diri sendiri. Kalau  tidak saya kontrol, saya akan tumbuh menjadi orang yang toxic bagi orang lain. Mungkin teman-teman di umur 20-an bisa merasakan ini, apalagi perihal quarter life crisis yang selalu menjadi momok. Yes, overthinking is ruined everything. Overthinking pasti membuat kita gusar dan sedih, terlalu cemas, takut, dan sikap negatif lain. Kita seperti terpenjara oleh pikiran sendiri dan itu tidak sehat sama sekali.
Sebagai contoh nyata yang pasti kalian rasakan juga, saya merasa insecure dan overthinking ketika mengeksplor kisah rekan yang sukses di umur saya sedangkan saya melihat diri saya belum ada apa-apa nya. Alih-alih jadi semangat malah justru jadinya merendahkan diri sendiri, apalagi sampai membandingkan diri saya dengan orang tersebut. Sejatinya, secara psikologis ini tidak sehat sama sekali.  Bagaimana bisa sehat kalau ternyata bikin kepala pusing, mood berantakan dan akhirnya tidak melakukan apapun.
Lalu bagaimana saya berusaha mengontrol hal tersebut? Ada dua hal yang menurut saya paling berkesan, yaitu membuat list quote mengenai overthinking dan membuat list kegiatan yang dari dahulu saya idamkan namun tidak bisa dilakukan. Terapi ini cukup membuat saya berpikir bahwa masa depan memang perlu dipikirkan, karena setiap yang berlebihan itu tidak baik, terlebih lagi saya akan kehilangan waktu saya di masa sekarang.
Pertama, quote menarik yang saya temukan ada di kitab agama saya, Al-Qur’an. Jujur, selama saya membaca Qur’an saya jarang sekali membaca arti, namun entah kenapa saya secara tidak sengaja membaca arti dari surah Al-Hadid : ayat 20 dimana ayat tersebut menurut menerangkan bahwa sebagai manusia kita harus mengetahui dan paham bahwa dunia adalah tempat yang penuh dengan delusi akan kesenangan dan setiap orang berusaha untuk jadi kaya sehingga lupa akan ampunan yang diberikan Allah. Kemudian, ayat 22 yang menerangkan bahwa tidak ada bencana yang menimpa bumi dan manusia di dunia selain semua sudah diatur oleh-Nya jauh sebelum diciptakan.
Bukan bermaksud membanggakan agama, tetapi dua ayat tersebut menurut saya dapat diterapkan oleh siapa saja, tidak memandang latar belakang agama sekalipun. Kedua ayat tersebut sangat amat menenangkan diri saya  yang terlalu sibuk memikirkan setelah lulus ini mau jadi apa, bagaimana bisa beli rumah padahal tanah semakin lama semakin mahal, bagaimana nanti bantu orang tua membayar hutang dan lain sebagainya. Saya percaya bahwa kalau terlalu memikirkan dunia tidak akan ada habisnya, merasa dunia bisa digenggam segalanya itu mustahil. Saya juga percaya bahwa apa yang saya dapatkan saat ini mungkin saja kebaikan orang-orang yang pernah mampir ke kehidupan saya, siapapun itu. Saya bersyukur dan mengucap terima kasih melalui tulisan ini ya, orang baik.
Kedua, saya membuat list kegiatan yang saya ingin coba. Mulai dari bullet journaling, membuat masakan atau kue yang dapat resep dari TikTok, membantu orang lain dengan rekan melalui donasi, membaca buku hingga mencapai target, menonton drama korea atau film, dan masih banyak lagi. Kegiatan-kegiatan tersebut secara tidak langsung mengasah kemampuan saya untuk menjadi kreatif dan lebih peka terhadap orang lain. Jangan lupa, diskusi dengan rekan dan membaca status WhatsApp story juga menjadi berita menarik juga untuk disimak, banyak hal baru yang saya dapatkan entah kabar kawan, berbagai video lucu, curhatan kebahagiaan dan kesedihan, informasi terkini, ajakan diskusi, dan masih banyak lagi. Terlebih lagi, saya akhirnya dapat kembali kerumah setelah dua tahun tidak pulang dari tanah rantau. Bermain dengan adik kecil saya menjadi sebuah bentuk rasa syukur saya atas kesempatan yang Allah berikan bagi saya. Intinya, mencoba mengurangi asupan hal-hal yang membuat overthinking adalah ‘koentji’.
Pesan yang ingin saya sampaikan adalah pikirkanlah masa depan seperlunya, di dunia ini ada beberapa hal yang tidak bisa kita kendalikan, jadi cukuplah lakukan hal yang masih bisa di kontrol dan tetap membuat kita bahagia. Untuk menjadi orang yang bermanfaat, berusahalah untuk setidaknya bermanfaat bagi diri sendiri dahulu. Selamat menempuh kehidupan, pelan-pelan ya? Ingat, meski saat ini kita berada di kapal yang berbeda tapi saat ini kita menghadapi badai yang sama kok. Kamu engga sendiri. Semangat!


Editor Penulis : Esha Farhan Manggala