Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Esha Farhan Manggala

Bacalah, Semoga Menjadi Inspirasi.

Debat Politik Nasional : Hima PkN 2018

Universitas Negeri Semarang.

Debat Politik : Eglostick 2018

Universitar Negeri Padang.

Debat Hukum

Universitas Muhammadiyah Aceh.

Kamis, 18 Agustus 2022

Essai : Korelasi Strata Pendidikan dan Dunia Ketenagakerjaan

BERKULIAH UNTUK BEKERJA ATAU BERILMU?



Seperti yang kita ketahui bersama bahwa menuntut ilmu merupakan sebuah keharusan bagi setiap Insan di dunia ini. Ilmu dicari oleh setiap orang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Salah satu jalan didalam menuntut ilmu ialah dengan cara berkuliah. Menurut KBBI sendiri kuliah berarti  sekolah tinggi atau mengikuti pelajaran di perguruan tinggi. Kita juga sering mendengar dari berbagai pihak bahwa kuliah itu tujuannya untuk mencari pekerjaan di masa depan. Dan banyak orang pula yang berlomba-lomba untuk berkuliah di tingkatan yang lebih tinggi hingga Professor dengan mental money oriented. Namun, realitanya saat ini banyak orang yang tenggelam atas ekspektasi tersebut.

Adapula yang berkuliah hanya sekedar mencari gelar sarjana semata. Mencari gelar dengan orientasi bahwa semakin banyak gelar maka akan semakin tinggi rasa hormat dan derajat dimata orang lain. Orientasi gelar tersebut tentunya menimbulkan masalah kedepannya karena gelar-gelar dan keilmuan tersebut tidak di implementasikan kepada Bangsa dan Negara. Namun, gelar-gelar tesebut terkubur dilautan para sarjana kertas.

Para sarjana kertas yang saya maksud ialah sarjana yang terombang-ambing oleh harapan-harapan mendapat pekerjaan yang instan dari lembaga Pemerintah, perusahaan BUMN maupun perusahaan swasta. Mereka lupa bahwa potensi mereka sangat besar untuk membuat lapangan pekerjaan yang berguna bagi dirinya dan masyarakat banyak. Para sarjana ini terlahir ribuan orang setiap tahunnya. Dan ironisnya jumlah mereka menyumbang sebagian besar pengangguran di Indonesia yang saat ini mencapai angka 8.402.153 menurut data BPS tahun 2022.

            Seharusnya niat yang perlu ditanamkan bagi para sarjana maupun calon sarjana muda ketika berkuliah ialah untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman. Bukan sebatas niat untuk mendapatkan gelar dan pekerjaan semata. Dengan memiliki mindset bahwa kuliah untuk mencari ilmu dan pengalaman, maka setiap langkah yang dilakukan seseorang ketika berada di kampus murni karena ingin menuntut ilmu bukan menuntut sebuah pekerjaan yang akan hadir dimasa depan. Pekerjaan hadir jika kita mencarinya dimasa depan ketika ilmu cukup. Ia hadir sebagai bonus bagi Mahasiswa yang telah menuntut ilmu. Dan juga tidak jarang kita mendengar banyak Mahasiswa yang dipanggil untuk kontrak di perusahaan-perusahaan atau instansi yang menginginkan mereka. Jadi, jangan merasa gundah gulana karena sang pemberi rezeki tidak meninggalkan hambanya.

            Dengan menanamkan niat tersebut juga akan membuat diri semakin yakin bahwa jalan yang ditempuh bukanlah berada dijalan yang buruk. Niat yang lurus tersebut membuat jiwa dan raga terus berproses dengan harapan mendapatkan ridha ilahi semata. Hal ini juga pernah disabdakan Nabi Muhammad S. A. W “Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Hal tersebut menegaskan bahwa ilmu bukanlah alat untuk meraih kesuksesaan di dunia saja. Namun, juga di akhirat kelak.

Kita juga perlu memahami bahwa menuntut ilmu dengan cara berkuliah tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan yang bersifat akademis. Disana kita bisa mendapatkan berbagai macam skill-skill yang dibutuhkan. Seperti skill bersosial, berorganisasi, berbahasa, berolahraga dan berbagai macam skill yang juga turut di fasilitasi oleh Kampus. Manfaat kemampuan skill tersebut juga diutarakan oleh Dennis Buttimer, M.Ed “Saat Anda mempelajari keterampilan baru, Anda akan menemukan lebih banyak hadiah tentang diri Anda dan meningkatkan kepercayaan diri dan rasa sejahtera Anda. Anda juga dapat memengaruhi orang lain secara positif dengan keterampilan baru Anda.”. Bukan hanya skill yang terasah, disana mental kita juga dapat terlatih dibawah tekanan keras akan tugas-tugas, skripsi ataupun kegiatan organisasi. Mental yang dahulunya ciut dapat terbangun dengan bentuk yang lebih tahan banting. Alhasil, dengan terbentuknya skill dan mental akan membuat Mahasiswa tersebut Mahasiswa tersebut terbiasa dengan situasi dan keadaan yang keras di Masyarakat dan di dunia pekerjaan. Dengan demikian apakah kita masih ragu untuk menuntut ilmu dibangku perkuliahan?

Oleh karena itu, kesimpulan yang dapat kita petik adalah bahwa kuliah yang berorientasi untuk meraih pekerjaan, gelar dan kehormatan semata tidak bisa menjadi landasan kita didalam memaknai kuliah. Karena pada dasarnya kuliah merupakan sebuah jalan kebaikan melalui jalur pendidikan yang bisa dilakukan untuk membuat perubahan besar di dalam diri dan ruang lingkup Masyarakat. Hal tersebut senada dengan ucapan Nelson Mandela “Pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” - Nelson Mandela”.  


Penulis : Teuku Muhammad Maulana Akbar

Sabtu, 07 Mei 2022

Opini : Ondel-Ondel Icon Kebudayaan Betawi

 

Distorsi Ondel-ondel Kota Megapolitan DKI Jakarta sebagai Kebudayaan dan Kebanggaan Betawi : Pelestarian Budaya/Alat Pengais Rezeki ?

 


Ondel-ondel adalah sebuah pertunjukan rakyat betawi yang menghiasi pergelaran pesta rakyat ibu kota Jakarta. Mulanya, ondel-ondel pada zaman dahulu digunakan sebagai penolak bala dan penjaga kampung. Biasanya ia diarak saat ada pagebluk (wabah) yang melanda kampung, selametan, hajatan besar (Cap Go Meh, dll.) atau sedekah bumi setelah panen raya. Karenanya bentuk ondel-ondel laki-laki yang asli lebih seram dengan mata melotot dan adanya gigi taring. Awalnya ia juga dikenal dengan sebutan "barongan". Kata "ondel-ondel" menjadi lebih populer ketika Benyamin Sueb membawakan lagu "Ondel-ondel" pada tahun 1971 dalam irama gambang kromong yang digubah oleh Djoko Subagyo.

Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta-pesta rakyat, atau diarak untuk mengamen. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel masih bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta. Jika dahulu ondel-ondel sangat di junjung tinggi dan ditakuti oleh anak-anak, kini ondel-ondel sering ditemukan sebagai alat pengais rezeki di jalanan. Tak terurusnya ondel-ondel menyebabkan penurunan kualitas, entitas, dan identitas dimata masyarakat.

Hal ini disampaikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Purbasari, Marianto, dan Burhan yang berjudul Membaca Perubahan Tanda Visual dan Makna pada Ondel-ondel dalam Perkembangan Masyarakat Betawi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa saat masyarakat percaya pada sebuah karya seni sebagai bagian dari kehidupan dan kepercayaan, maka objek tersebut akan mendapat tempat dan perlakuan yang layak. Namun, di mata masyarakat kini ondel-ondel hanyalah sebuah boneka besar penghibur yang digunakan tanpa memperhatikan aturan mainnya.

Dalam Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta nomor 4 tahun 2015 mengatur tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, didalamnya mengatur tentang melestarika, mengembangkan, pemanfaatan dan pencegahan punahnya kebudayaan. Namun dalam hal ini pemerintah belum melakukan upaya yang konstan terhadap fenomena tersebut, disatu sisi ondel-ondel yang ada di jalanan dibawakan sejumlah kelompok anak-anak muda yang mengarak sepanjang jalan megapolitan masuk kepertokoan hingga komplek perumahan, ada dua sisi dari aktivitas tersebut ; Ondel-ondel masih eksis menjadi icon budaya betawi dan di gemari anak-anak/pemuda atau malah menjadi alat mencari pundi-pundi rupiah karena tidak adanya ruang-ruang kreasi, pagelaran budaya yang kurang masif, sehingga ondel-ondel turun kejalan dan menjadi “Pengamen”. Perlunya perhatian khusus dari pemerintah agar sejarah, kebudayaan betawi ini tetap terjaga dan memiliki marwah serta nilai khusus dihati masyarakat, apalagi banyak anak muda saat ini lebih senang dan bangga dengan budaya luar ketimbang melestarikan kebudayaan dan adat daerah sendiri.

 

Rabu, 16 Februari 2022

ARTIKEL KESEHATAN

 

DIGITALISASI SISTEM KLINIK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI ERA DISRUPSI DAN ERA NEW NORMAL DI INDONESIA



Awal tahun 2020 merupakan tantangan bagi seluruh masyarakat Indonesia dan juga Dunia. Pandemi dan persebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang berasal dari Wuhan, China telah menyebar ke seluruh mancanegara dan banyak mengubah aspek kehidupan mulai dari sisi ekonomi, sosial, pendidikan, dan paling utama aspek kesehatan, banyak pula orang-orang yang terjangkit melanda pada negeri ini telah menciptakan keterbatasan dan jarak di masyarakat, salah satunnya adalah dampak sosial yang mengharuskan kita menjaga jarak fisik dan mengurangi intreraksi sosial satu sama lain secara langsung atau tatap muka, dengan demikian terbit pula kebijakan dari pemerintah Republik Indonesia untuk menekan angka terjangkitnya virus corona selama pandemi mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB Transisi, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, hingga PPKM Level 4 yang berlaku juga dengan keterbatasan disemua fasilitas umum maupun fasilitas kesehatan.

Pandemi Covid-19 dan proses demonstrasi revolusi industri 4.0 sekarang jika dalam leksikon Jawa disebut dengan Aji mumpung. Karena kedua hal tersebut berjalan kompatibel. Covid-19 memaksa setiap orang untuk menjaga jarak atau bahkan tetap dirumah guna untuk memutus penyebaran rantai Covid-19. Maka dari itu, kesempatan ini dengan durasi masa pandemi yang relatif normalnya 2 tahun membuat setiap orang nyaman melakukan setiap kegiatan dengan cara virtual.

Tidak dapat di mungkiri bahwa palu godam covid-19 menghantam berbagai dimensi kehidupan mulai dari yang paling fundamental yaitu ekonomi dan pendidikan dan kesehatan misalnya. Setiap aktivitas manusia jika salah satu terhenti pastinya akan mengalami contagion effect misalnya yang paling berpengaruh adalah ekonomi dan kesehatan.

Situasi New Normal dan Gaya Hidup Digital

Dalam situasi yang terbatas tentunya kita tidak bisa stagnan dalam satu sisi dan efek pandemi melanda membuat orang-orang terus melakukan berbagai cara untuk keluar dari situasi genting ini dan melakukan pembiasaan baru yang disebut dengan new normal, di era disrupsi revolusi industri 4.0 saat ini manusia juga terus melakukan inovasi berbasis online yang didukung oleh massifnya penggunaan IoT (Internet of Thing) dalam pendidikan, jasa pelayan dan pekerjaan menggunakan basis teknologi dan digital secara virtual, digitalisasi layanan kesehatan sudah dimulai dan digaumi sejak lama, sebelum pandemi di negeri ini ada. Ada banyak sekali klinik dan rumah sakit yang ingin melakukan langkah digitalisasi, namun dari mereka masih belum memiliki kelengkapan dan sarana pendukung seperti aplikasi sendiri dan belum menemukan platfrom yang tepat untuk melakukannya dan kurangnya sumberdaya serta belum memadainya fasilitas sebagai penunjang kemudahan dalam pelayanan kesehatan.

Masyarakat saat ini memerlukan pelayanan kesehatan yang aman, nyaman, dan juga cepat serta praktis tanpa harus berbelit dengan administrasi yang terlalu panjang serta anti-ribet. Dengan cepatnya arus teknologi dan informasi ini membuat permasalahan diatas dapat teratasi dengan mudah dalam satu gengaman dalam bentuk aplikasi digital untuk memudahkan pasien dalam melakukan proses digitalisasi klinik dapat berjalan dengan cepat.

Kehadiran klinik digital dapat membantu dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara mudah dan praktis, yang mana dalam era big data sudah seharusnya bidang kesehatan baik di rumah sakit ataupun klinik kesehatan harus melakukan aktivitasnya berbasis Go Digital agar efektif dan efesien serta menekan biaya yang lebih terjangkau.

Kemudahan dalam digitalisasi klinik ini salah satunya dapat berkoordinasi yang lebih baik antara dokter dengan pasien yang memudahkan pasien untuk menyimpam dan melihat riwayat pengobatan yang mereka lakukan, dan menjadi operasional harian yang lebih baik seperti jadwal dokter pemeriksaan dokter.

Maka kehadiran aplikasi dan platform yang dapat memberikan kemudahan dalam mengatur data rekam medis, apotek dan rumah sakit dengan harga yang sangat terjangkau untuk klinik dan rumah sakit yang berbasis web, dan juga menyediakan fitur reservasi untuk pengelolaan lebih sederhana dan simple, harian pendaftaran pasien seperti rekam medis elektronik untuk memudahkan dokter dalam melakukan rekam medis pasien, apotek dan kasir untuk mempercepat proses antrian dalam mengambil obat-obatan, terdapat Enterprise Resource Planning (ERP) analisis bulanan bisnis, akuntansi dan inventaris.

Digitalisasi dapat membantu dan mendorong pelayanan kesehatan menjadi sangat lebih efektif dan efesien, manfaat dari digitalisasi pada layanan kesehatan antara lain ; kemudahan bertemu dengan dokter karena pasien tentu akan lebih senang jika dapat mengetahui praktek jadwal dokter yang sudah transparansi penjadwalan dan sistem konfirmasi booking yang


teratur. Dengan layanan Kesehatan yang sudah terhubung secara digital ini jika pasien ingin melakukan pemeriksaan dapat terkonfirmasi melalui sistem perjanjian online yang tersedia di website yang bisa di akses dimanapun dan kapan pun. 

Klinik Digital Sebagai Solusi Konkrit Efesiensi Birokrasi

Maka oleh karena itu proses digitalisasi klinik menjadi katalis sekaligus inovasi mutakhir dalam dunia medis. Selain efisiensi dan efektifitas, dimasa pandemi ini proses konversi aktivitas manusia terutama perihal kesehatan kedalam dunia virtual merupakan opsi alternatif paling baik untuk menekan penyebaran virus dan disisi lain efek domino dari pada proses digitalisasi ini sangatlah terasa manfaatnya. Beberapa diantara lain seperti terfilternya informasi terkait kesehatan tidak seperti di google rimbanya informasi yang tidak terfilter, adanya klinik digital memungkinkan pasien mengeksplorasi berbagai spesifikasi dan indikasi penyakit, cara pencegahan, konsultasi tanpa harus mengantri yang makin berdampak pada ratio angka positif covid, bertanya secara leluasa tanpa hambatan jarak dan waktu yang dalam idiom Michael Hayden teknologi disebut berfungsi sebagai The annihilation of space throught time” atau upaya memanipulasi waktu tempuh maka dari ini proses digitalisasi klinik menghancurkan atau mendebirokratisasi prosedural klinik yang membosankan dan tidak menjawab tantangan zaman.

Selasa, 21 September 2021

Pare, Kampung Inggris

(Serunya Belajar Bahasa dan Kompleksitas Romansa Cinta)

 


Hi everyone..! Apasih yang terpikirkan tentang kampung inggris? Pasti tempatnya orang dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul untuk belajar bahasa Inggris, ya. Kampung Inggris terletak di Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Disebut kampung Inggris bukan karena banyak orang Inggris yang menetap disini tapi merupakan daerah yang banyak membuka lembaga kursus bahasa Inggris baik skala rumahan hingga berbentuk perusahaan.

Lingkungan di Kampung Inggris Pare sudah tertata. Seperti halnya lingkungan di sekitar kampus, di Kampung Inggris Pare tersedia banyak warung makan, penyewaan sepeda, cafe yang menjamur, laundry, tempat ibadah, toko buku, taman, dan peralatan yang dibutuhkan mahasiswa untuk belajar. Alat transportasi utama adalah sepeda dan motor. Keduanya dapat disewa di tempat penyewaan sepeda dan motor. Tidak ada angkot jarak dekat ataupun ojek seperti di kota-kota besar.

Selama belajar di Kampung Inggris penulis merasakan impact dan hasil yang sangat signifikan dalam belajar berbahasa Inggris, belajar selama berbulan-bulan telah di jalani dari dasar hingga tingkat lanjut menjadikan kampung Inggris tempat yang pas untuk menambah dan memperdalam skill bahasa Inggris.

Selain belajar bahasa Inggris kita disini juga menambah relasi pertemanan, pertukaran budaya dari masing-masing member kursus serta ilmu dari berbagai latar belakang para member kursus. Dan yang paling menarik selama proses belajar di Kampung Inggris adalah hubungan asmara yang terjadi antara member, tutor, dan warga sekitar.

Bumbu asmara yang terjadi selama berada di kursusan menjadi cerita unik tersendiri dikalangan member kursus, ada yang memang menjadi pasangan (Berjodoh) adapula yang hanya merasakan romansa Cinta selama kursus saja, hal ini sangat terkenal dengan sebutan #PareJahat yang notabene cinta bertumbuh selama kursus namun putus setelah program selesai. Yang kentara adalah dimana hal ini terjadi mengalir begitu saja tanpa ada campur tangan sutradara ataupun direkayasa.

Demikianlah gambaran yang terjadi di Kampung Inggris, semoga pembaca dapat ikut merasakan atmospher yang penulis rasakan dan menjadi informasi sekilas mengenai suka duka belajar di Kampung Inggris. Catch you later…!!! 

Jumat, 08 Januari 2021

Opini : PAGUYUBAN UNDERCOVER

 

DIPERSIMPANGAN DILEMA, POLITIK PRAKTIS ATAU POLITIK PRAGMATIS



 

Jenuh dan lelah, kembali terjadi disharmoni yang terjadi secara vertikal dan horizontal. Sebuah organisasi nirlaba yang bergerak untuk menghimpun dan menyatukan unsur dan visi atas identitas yang sama. Lembaga itu juga diisi oleh para pelajar, mahasiswa, dan ada juga sebagian pemuda yang disebut paguyuban. Secara baku pengertian paguyuban berasal dari kata guyub yang berarti akur atau bersama (Tim Sosiologi, 2007: 62), dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) paguyuban adalah perkumpulan yang bersifat kekeluargaan, didirikan orang-orang sepaham (sedarah) untuk membina persatuan (kerukunan) diantara para anggotanya. Dari pengertian tersebut bahwa paguyuban merupakan organisasi informal yang memiliki kesamaan identitas (common identity).

Konsep dan penjelasan paguyuban diatas menjadi sebuah paradoks dalam implementasinya di atas lapangan, wadah paguyuban yang seharusnya menjadikan perkumpulan untuk silaturrahmi atas persamaan identitas condong disalah gunakan untuk kepentingan politik semata, fenomena kontemporer yang terjadi diangkat atas isu kedaerahan menjadikan konflik baru ditengah kerukunan hidup. Mengedepankan asas ego, gengsi, dan etnosentrisme yang terjadi membuat paguyuban menjadi alat politik baru yang dapat digunakan oleh segelitir elite dan aktor-aktor politik yang ingin memanfaatkan paguyuban sebagai penarik banyak massa.

Jika dikaji lebih jauh dalam Politeke Episteme (Ilmu Politik) paguyuban dalam proses pembentukan dan menjalankan roda organisasi juga merupakan bentuk dan proses politik, pemilihan ketua paguyuban juga melalui proses politik yang umumnya dibentuk dalam Musyawarah Besar, dalam musbes juga ada penetapan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) yang diatur dan dibahas oleh peserta forum mubes untuk menentukan arah dan kebijakan dalam menjalankan roda organisasi paguyuban namun hal ini sering diabaikan dan dianggap remeh oleh peserta yang hanya berfokus untuk memilih ketuanya saja, dalam pelaksanaan mubes pula terjadi pergantian kekuasaan dan perebutan pimpinan paguyuban yang menyebabkan proses politik praktis terjadi seperti loby, kampanye, pengutan massa, pembentukan citra calon pimpinan paguyuban hingga terdapat money politic (politik uang) sehingga terjadi kecurangan pemilihan yang membuat keributan antara sesama.  Dalam kamus politik kontemporer (2009, p. 263) dijelaskan bahwa politik praktis adalah semua kegiatan politik dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Dari pemaparan diatas bahwa posisi paguyuban memiliki peranan cukup baik dan buruk dalam pengaruhnya menjalankan organisasi ini, jika ditarik lebih jauh paguyuban bisa menjadi motor politik dan jika dikaji lebih dalam orang yang memimpin dalam paguyuban dapat berubah orientasinya untuk pragmatisme politik (2009, p. 267) yaitu sikap yang menjadikan politik sebagai keuntungan pribadi ataupun kelompoknya, pragmatisme politik beranggapan bahwa politik adalah cara mudah untuk meraih kedudukan sosial yang terhormat, jabatan yang tinggi, dan juga meningkatkan ekonomi secara instan. Contoh, apabila paguyuban diarahkan dalam pragmatisme politik, paguyuban kemahasiswaan yang diarahkan dalam pemilihan umum di sebuah kampus maka akan ada deal politik untuk memasukan orang daerah dan mendukung calon yang diusung sesuai dengan kedaeraahannya. Jika dalam konteks yang lebih luas paguyuban juga berpengaruh terhadap pemerintahan daerah, dengan massa yang ada paguyuban (masyarakat atau pelajar & mahasiswa) bisa menjadi pihak yang Mendukung atau Menolak kebijakan pemerintah dengan statusnya sebagai kelompok masyarakat sipil (Civil Society) hal ini yang dimanfaatkan para elite untuk meraih massa sebagai alternatif baru selain melalui jalur partai politik ataupun underbow partai untuk meraih kekuasaan politik di daerah.  

Paguyuban selain mengadapi dilema politik praktis juga pragmatisme politiknya juga punya dinamika internal kedaerah yang harus dihadapi mulai dari tingkatan yang berbeda dengan struktur yang berbeda namun saling memiliki kaitan erat. Sebagai contohnya paguyuban pelajar, kemahasiswaan dan pemuda yang merantau membentuk sebuah paguyuban mulai dari tingkat Provinsi, Kabupaten, hingga antar Kecamatan. Namun pada dasarnya setiap tingkatan itu tidak saling mendominasi dan mempengaruhi secara kebijakan politik dan strukturalnya, bukan seperti partai politik yang memiliki tingkatan Pusat, Wilayah/Daerah, Cabang, hingga Ranting yang memiliki komando dan perintah terhadap tingkat yang lebih tinggi. Koordinasi antar pimpinan paguyuban dipusatkan untuk sinergisitas dan kolaborasi antar kedaerahan dan memiliki tujuan pengembangan dan pembangunan didaerah, dengan harapan perkumpulan pelajar dan mahasiswa yang merantau untuk menimba ilmu mampu membawa pulang hasil untuk kemajuan daerahnya.

Ditinjau lebih dalam terjadi anomali dalam proses berjalannya organisasi paguyuban ini, paguyuban yang berbeda antar tingkatan menyebabkan GAP yang terjadi, acap kali paguyuban dengan struktur kedaerahan ingin menarik massa yang banyak untuk menjaga eksistensi semata dan juga sebaliknya paguyuban daerah yang lebih kecil ingin diakui keberadaannya dan mengedepankan exposure sebagai jalan untuk lebih dikenal luas identitas kelompoknya. Secara parsial paguyuban daerah seperti kabupaten juga tidak berwenang untuk mengatur paguyuban kecamatan dalam arti yang lebih sempit dimaknai ketiadaan Otoritas/Wewenang (Authority) dan juga Legitimasi (Legitimacy atau keabsahan) tidak bisa membuat paguyuban kecamatan tunduk terhadap pengaruh yang dikeluarkan oleh sebuah paguyuban kabupaten, namun sebaliknya paguyuban kecamatan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap dan intervensi kewenangan yang dikeluarkan oleh masing-masing kecamatan untuk paguyuban kabupaten, demikian juga kabupaten ke provinsi, sebab paguyuban kabupaten juga terdiri atas perwakilan kecamatan yang di delegasikan/dimandatkan untuk melakukan konsensus dalam musyawarah besar serta menjadi pengurus paguyuban ditingkat kabupaten. Harold D. Laswell dan Abraham Kaplan (1950, p. 74) dalam bukunya Power and Society bahwa wewenang (authority) adalah kekuasaan formal. Dianggap yang memiliki kewenangan berhak mengeluarkan perintah dan membuat peraturan serta berhak untuk mengharapkan kepatuhan terhadap peraturan-peraturannya. Namun jelas, dalam pemaparan diatas kewenangan yang ada untuk paguyuban kabupaten hanya untuk internal anggotanya saja bukan untuk mengeluarkan kebijakan seperti pemerintahan, terhadap paguyuban kecamatan.

Dengan kompleksitas masalah yang telah penulis paparkan bahwa paguyuban memiliki andil, pengaruh, dan posisi penting juga terhadap permasalahan politik serta kebijakan daerah, sehingga keberadaan paguyuban dapat dipandang menjadi mitra strategis pemerintah untuk merekomendasikan pembangunan daerah namun dapat juga menjadi ancaman serius apabila orientasi paguyuban dibawa dalam pragmatisme politik oleh segelitir kelompok yang mengendalikan dan memanfaatkan paguyuban sebagai alat meraih kekuasaan dan kepentingan semata, agar dilema paguyuban tidak merubah dari tujuan awal yaitu ajang berkumpul hidup rukun dan saling bersilaturrahmi antar sesame sehingga terciptanya persaudaraan yang erat dalam kerukunan.

Referensi

Harold D. Laswell, A. K. (1950). Power and Society. New Jersey: Yale University Press.

Kaelola, A. (2009). Kamus Politik Kontemporer. Yogyakarta: Cakrawala.

Sosiologi, T. (2007). Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat . Bogor : Ghalia Indonesia.

 

 

Sabtu, 02 Januari 2021

PUISI

 

REFLEKSI AKHIR TAHUN 2020


2020 merupakan tahun yang berat, ujian yang rapat, namun kita harus saling menjaga hubungan yang erat dan mental yang kuat. 

Hari ini kita dibatasi oleh jarak, namun tidak membatasi kita untuk bertindak serta bergerak. Untuk menghasilkan sesuatu yang nyata, tanpa ada sandiwara.

Drama, dinamika, dan musibah datang silih bergantih. Perih, pedih, dan sedih harus kita lalui. Ingat, nahkoda yang andal tidak lahir dari ombak yang dangkal dan tenang, berusaha untuk bersenang agar tak larut dalam kekalutan yang berbalut menjadi DEPRESI.

Tahun ini pula mengajarkan kita untuk saling bersabar, memaknai dan mencoba hal-hal baru yang selama ini lupa bahwa  dirumah aja kita bisa produktif, sebagai tanggung jawab akademisi alhamdulillah tahun ini pula di ijabah Allah SWT saya Bersidang bertepatan dengan HAUL. Ayah Bunda, lihatlah anakmu ini yang pertama telah menyelesaikan ibadah akademisi sebagai misi untuk menambah pengetahuan diri.

Akhir kata saya ucapkan selamat menyambut tahun yang baru, semangat yang baru di 2021 semoga menjadi titik balik pada rentetan kejadian di tengah pandemi. 😊

Minggu, 31 Mei 2020

CERITA LEBARAN DI TENGAH PANDEMI II


“Lebaranku suram, karena corona atau ulah negara?”


Penulis : Nia Rahmadhani 

Saya tertarik menyaksikan ulasan dari Mardigu wowik seorang bussinesman yang pernah menjalani study dibidang intelijen, menjelaskan bahwa pandemi Covid – 19 adalah jenis perperangan dunia tanpa senjata, menurutnya herd immunity ditawarkan sebagai salah satu langkah yang paling efektif untuk menekan penularannya. Namun para pemangku kebijakan  mempunyai pandangannya sendiri yaitu dengan penerapan PSBB, Meski penerapannya sudah berlangsung sebelum bulan suci Ramadhan hingga pasca lebaran namun masih belum menampakkan hasil yang signifikan untuk menekan angka penularan, hingga muncul skenario new normal sebagai perwujudan dari harapan presiden Jokowi agar kita segera “berdamai” dengan corona. Insting saya mengkhawatirkan wabah corona ini sengaja ditunggani untuk melancarkan sejumlah kebijakan – kebijakan kontroversial yang bersifat urgent seperti; UU Minerba yang tiba – tiba disahkan, regulasi penggunaan Kartu prakerja, kenaikan iuran BPJS, hingga pembangunan ibu kota baru yang tetap berjalan ditengah kondisi krisis ini. Segudang persoalan itu cukup membuat saya sangat frustasi Sementara Saya sendiri tidak memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menjadi pengkritik yang baik, tapi sebagai warga negara yang merasakan dampak terhadap setiap kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah tentu bukan hal yang nyaman untuk diam saja apabila kebijakan tersebut tidak memberi efek perbaikan atas masalah yang terjadi.
The firts lebaran idul fitri tahun ini saya shalat ied tidak berjama’ah alias sendiri dirumah dikarenakan terlambat datang ke mesjid. Kejadian yang terdengar sangat konyol akibat mood saya ditimpa oleh perasaan sedih menjalani lebaran dengan euforia yang tidak seperti biasanya, selesai shalat saya bermunajat mengadukan perasaan hati yang begitu nelangsa, meneteskan air mata mengiklaskan atas apa yang menimpa kita saat ini, meyakinkan hati saya bahwa semua pasti ada hikmahnya.
Sebagai individu yang merdeka meski disisi lain tengah terkungkung dalam kontrol negara saya terpaksa untuk taat dengan segala kondisi yang diciptakan oleh negara, beberapa diantaranya disaat lebaran ini adalah; gema takbir yang biasanya memeriahkan kampung kini hanya di lantunkan seadanya, melewati hari kemenangan tanpa hiruk pikuk sanak saudara yang biasanya datang dari perantauan, serta menyaksikan semangat silahturrahmi yang memudar dengan dalih virus corona meski kampung saya berstatus zona hijau, dan tradisi libur lebaran dengan jalan - jalan otomatis akan ditiadakan mengingat permberlakuan PSBB, lebaran tahun ini terasa sangat mencekam bagi saya. meski sugesti yang diskenariokan kepada masyarakat mengajak agar tetap bersuka cita meski dirumah aja, hal itu sangat tidak ampuh bagi saya mengingat pemaparan saya pada paragraf pertama,  bagi saya PSBB dan segenap perangkat suksesinya adalah jenis kebodohan/ kesalahan yang diulang – ulang yang diterima sebagai sebuah kebenaran dan lebih picik lagi jika memang dianulir untuk meloloskan kebijakan – kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat.
Meski begitu Orang tua telah mendidik saya bahwa ujian yang kita hadapi meski seberat apapun harus tetap bersyukur, pesan itu kini menguatkan saya. Berusaha keras saya agar tetap open minded dengan semua yang terjadi, saya merenung bahwa ditengah keputus asaan tersebut masih banyak hikmah yang bisa dipetik dari musibah Covid – 19 ini, beberapa diantaranya, yaitu;  menambah intensitas saya untuk berbakti kepada orang tua, saya yang sudah lama menghabiskan waktu untuk kuliah di kota perantauan kini menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk orang tua, membantu beliau menyiapkan semua keperluan menjelang lebaran, dari mulai mengantarkan kepasar, membantu memasak, beres –beres rumah, dll. serta saya merasakan kualitas ibadah yang lebih meningkat dan tentunya terhindar dari penyakit ria. Terakhir, kita semua berharap corona cepat berlalu sehingga lebaran berikutnya tidak dihadapkan pada kondisi yang sama. Amin...

            
           Editor  Penulis : Esha Farhan Manggala