Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Esha Farhan Manggala

Bacalah, Semoga Menjadi Inspirasi.

Debat Politik Nasional : Hima PkN 2018

Universitas Negeri Semarang.

Debat Politik : Eglostick 2018

Universitar Negeri Padang.

Debat Hukum

Universitas Muhammadiyah Aceh.

Senin, 26 Februari 2018

Opini : Kendala Mahasiswa Terhadap Skripsi

Hambatan Mahasiswa dalam menyelesaikan Tugas Akhir (Skripsi)

Baik. Teman-teman hari ini penulis ingin menjabarkan apasaja hambatan-hambatan yang dilalui mahasiswa sehingga cenderung terlambat dalam menyelesaikan tugas akhir hingga terlambat di wisuda, yaps tujuan perkuliahan selain mencari ilmu pengetahuan juga meraih gelar baik sarjana, magister, maupun doktor. Gelar akademisi kerap kali dipakai sebagai persyaratan untuk meraih perkerjaan, gelar akademisi juga dapat meningkatkan strata sosial seseorang maka dari itulah banyak orang yang ingin sekali kuliah. Beruntunglah seseorang jika dapat merasakan bangku perkuliahan karena tidak semua orang dapat merasakan bangku perkuliahan.

Dewasa ini, kita sering melihat bagaimana mahasiswa berdinamika dikampus dengan berbagai macam modelnya. Banyak juga hingga detik ini masih banyak mahasiswa tua (melewati semester 8) berkeliaran dikampus yang belum menyelesaikan tugas akhirnya (Skripsi). Banyak faktor yang menyebabkan seserang telat menyelesaikan tugas akhirnya, berikut akan penulis jabarkan :

Faktor-faktor penghambat dalam penyelesaian skripsi dari faktor internal dan eksternal meliputi:

A. Motivasi Individu

Dalam menyelesaikan sebuah skripsi itu terletak pada diri individu untuk cepat selesai tepat waktu atau terlambat, rajin menjadi faktor kuncinya. Motivasi orang orang terdekat juga dapat mempengaruhinya karena faktor lingkungannya untuk menyelesaikan sebuah skripsi.

B. Mencari Materi atau Judul Skripsi

Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan dapat diketahui kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam mencari materi atau judul skripsi yang akan diangkat untuk diajukan sebagai judul disebabkan kesungguhan, perhatian dan semangat mahasiswa yang kurang dalam mengajukan judul skripsi, kemampuan mahasiswa yang kurang dalam mengajukan ide atau judul yang rasional dan kreatif, mahasiswa kurang paham dalam menyusun ide atau gagasan sehingga sulit untuk dipahami oleh dosen ide yang diajukan serta belum paham permasalahan apa yang akan diangkat untuk dijadikan judul skripsi. Hal di ini harus didukung adanya motivasi mahasiswa dalam mencari materi atau judul skripsi sehingga mahasiswa paham masalah apa yang akan diangkat untuk dijadikan judul skrispi sehingga judul yang diajukan menarik dan dapat diterima oleh dosen. Menurut Darmono (2002: 72) “Masalah muncul karena adanya tantangan, adanya celah antara harapan dan kenyataan, baik antara kegiatan atau fenomena yang telah ada ataupun yang akan ada”.

C. Permasalahan dengan Dosen Pembimbing Saat Konsultasi

Skripsi Hasil penelitian yang terkait dengan hambatan saat konsultasi dengan dosen pembimbing tidak terlepas dari adanya komunikasi yang terjalin baik antara mahasiswa dengan dosen pembimbing skripsi. Permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa terkait hal ini adalah tidak terjadwalnya waktu bimbingan sehingga mahasiswa sulit menemui dosen pembimbing, ada rasa takut dan tidak berani saat konsultasi dengan pembimbing karena takut salah lagi dalam perbaikan skripsi, tidak sesuai perbaikan yang disarankan oleh pembimbing dan kemampuan mahasiswa yang kurang dalam berkomunikasi dengan dosen pembimbing menyebabkan apa yang akan disampaikan oleh mahasiswa sulit untuk diutarakan Terjalinnya hubungan komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa merupakan jalan yang mudah dalam menyelesaikan skripsi, mahasiswa yang dapat memahami situasi dan keadaan saat konsultasi skripsi, menepati janji dengan dosen pembimbing, rajin memperbaiki skripsi sesuai saran dari dosen pembimbing akan dapat melaksanakan proses bimbingan dengan cepat. Hal tersebut diungkapkan Sarwono (1997: 193) “Salah satu faktor penentu positif negatifnya suatu hubungan adalah komunikasi, karena komunikasi merupakan salah satu komponen pembentuk hubungan interpersonal”. Menurut Rahkmat (1998: 14) Komunikasi interpersonal yang efektif menyebabkan dua individu yang tergabung dalam proses komunikasi, sehingga mendorong tumbuhnya sikap saling terbuka, sebaliknya bila komunikasi interpersonal berjalan tidak efektif maka menyebabkan pelaku komunikasi mengembangkan sikap tegang. Dengan adanya keterbukaan mahasiswa dalam berkomunikasi dengan dosen pembimbing akan memudahkan dosen untuk memahami maksud dari keluhan dan permasalahan yang disampaikan oleh mahasiswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan faktor yang penting dalam hubungan interpersonal. Tujuan komunikasi tidak akan tercapai jika komunikasi tidak berjalan efektif. Efektivitas komunikasi interpersonal akan tercapai apa lagi terjalin hubungan yang baik antara mahasiswa dan dosen pembimbing.

D. Lembaga atau Organisasi

Banyak mahasiswa seakan terlena dengan kegiatan-kegiatan yang ditawarkan oleh lembaga atau organisasi sehingga membuat banyak mahasiswa dengan julukan aktivis telat menyelesaikan kewajiban akademiknya. Tuntutan serta amanah jabatan dalam lembaga atau organisasi tersebut menjadi kendala bagi sebagaian besar mahasiswa.

Demikianlah sedikit penjabaran yang dapat penulis paparkan, semoga ini menjadi semangat teman-teman yang sedang menyusun tugas akhirnya agar kendala dan hambatan yang penulis paparkan jadi pembelajaran bagi kita semua. Hemat saya, tingkatkan lagi semangat dalam menyelesaikan skripsi dan perbaiki manajemen diri serta waktu untuk membagi antara aktivitas akademik dengan aktivitas non-akademik, karena pada hakikatnya ilmu dapat diraih dimana saja.




Rabu, 14 Februari 2018

Opini : Valentine Day


Valentine day, hari kasih sayang atau hari duka?

Tanggal 14 februari seringkita kenal dengan Valentine day atau hari kasih sayang dan sering kali kaula muda merayakan hari ini dengan gegap gempita serta memamerkan hubungan pacaran mereka kepada publik, baik itu memberi kado kepada pasangan ataupun memberikan coklat sebagai bentuk kasih sayang. Banyak remaja muslim tidak mengetahui bagaimanakah sejarah hari valentine. Karena ketidaktahuan dan cuma asal ikut-ikutan trend, juga supaya mau dikatakan gaul, akhirnya mereka pun merayakannya. Di antara mereka saling memberi kado, lebih-lebih pada orang yang dikasihi. Maka kita lihat coklat dan berbagai souvenir laris manis di hari tersebut. Taukah kalian bagaimanakah sebenarnya sejarah hari tersebut?

Cikal Bakal Hari Valentine

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).
Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)
Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.
Sungguh ironis memang kondisi remaja saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme. Bahkan secara tegas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Dalil ini sudah cukup sebagai alasan terlarangnya merayakan hari valentine, apa pun bentuk perayaannya.