HARGAI WAKTU UNTUK MENJADI BANGSA YANG MAJU
Sesuatu yang paling jauh adalah waktu, karena
waktu tidak akan pernah kembali. Kita sering mendengar kutipan bahasa inggris
“Time is Money” (Waktu adalah uang), dan kutipan bahasa arab الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَب (waktu itu lebih
berharga daripada emas) , jika melihat dari kutipan diatas jelas waktu adalah
sesuatu yang sangat berharga dan tak ternilai harganya. Menurut para ahli waktu
adalah seluruh ragkaian peristiwa yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang
(M. Quraish Shihab: 2010). Setiap kejadian yang telah berlalu akan tercatat
menjadi sejarah yang hanya akan bisa dikenang tanpa bisa diulang kembali setiap
detail peristiwanya. Allah memberi manusia waktu untuk dapat dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya, bagaimana bisa kita mensia-siakan waktu yang ada untuk
sesuatu yang tidak berguna dan bermanfaat ?, sungguh orang tersebut akan sangat
merugi dalam hidupnya. Adapun didalam menghitung waktu juga diperlukan satuan hitung
mulai dari detik, menit, dan jam. Untuk menghitung 1 menit dibutuhkan 60 detik,
1 jam dibutuhkan 60 menit.
Kita dan Jam Karet
Adapun alat
penghitung waktu juga kita kenal Jam (dengan berbagai bentuk seperti jam pasir,
jam manual, jam digital dll) yang mana semua orang menggunakannya untuk
menentukan waktu.
Dewasa ini, di
era modern yang mana berbagai kemajuan disemua bidang dapat kita rasakan. Waktu
telah merubah itu semua, baik merubah kearah yang positif maupun merubah kearah
negatif karenanya jangan pernah sia-siakan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat
bagi kehidupan kedepan. Bagi masyarakat di negara maju mereka melakukan aktivitas
dengan efektif dan efesiensi waktu yang sangat baik, sehingga apapun yang
mereka lakukan selesai sesuai target.
Berbeda dengan
kondisi masyarakat indonesia, kita cenderung melalaikan waktu hingga setiap
kesempatan atau kegiatan kita mengalami molor waktu (suatu kondisi dimana tidak
sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan), hal ini telah lama dilakukan oleh
masyarakat secara berulang dan terus menerus sehingga menjadi budaya yang tidak
baik dan menjadi penyakit sosial. Prilaku ini dilakukan mulai dari masyarakat
biasa, kalangan akademisi hingga kalangan atas seperti (Pegawai Negri Sipil,
Elit Pejabat, dll) sebagai contohnya jika suatu kegiatan ataupun surat undangan
tertulis Pukul 08.00 WIB, banyak peserta undangan yang datang tidak tepat waktu
bahkan ada yang datang jam 11.00 WIB. Inilah yang membuat panitia diberbagai
kegiatan mengalami molor waktu didalam acara, dan juga contoh lainnya yaitu
jika waktu libur / cuti kerja yang di tetapkan adalah 2 hari, banyak pegawai
atau karyawan mengambil libur lebih dari hari yang telah ditetapkan.
Disiplin Waktu
sebagai ciri-ciri bangsa yang maju
Dari berbagai
contoh diatas bisa penulis asumsikan bahwa kebiasaan molor waktu itu timbul
karena kurangnya kesadaran akan disiplin waktu, sehingga apapun waktu yang
ditetapkan menjadi mengaret atau mengalami kata terlambat. Untuk itu hemat
penulis, sebagai upaya meningkatkan disiplin waktu yaitu dengan cara
menghilangkan prespektif “kalau bisa nanti, kenapa harus sekarang?” dan
bentuklah prisip “lebih baik menunggu 30 menit, daripada terlambat 1 menit”,
karena dengan prinsip inilah negara seperti amerika,jepang dan negara lainnya
bisa maju. Karena sikap menghargai waktu merupakan realisasi dari disiplin
hidup dan juga tujuan keberlangsungan hidup dan semoga tulisan ini dapat
menginspirasi para pembaca untuk lebih memaknai pentingnya menghargai waktu,
karena disiplin waktu merupakan ciri-ciri bangsa yang maju.





