Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Esha Farhan Manggala

Bacalah, Semoga Menjadi Inspirasi.

Debat Politik Nasional : Hima PkN 2018

Universitas Negeri Semarang.

Debat Politik : Eglostick 2018

Universitar Negeri Padang.

Debat Hukum

Universitas Muhammadiyah Aceh.

Minggu, 31 Desember 2017

Opini : TAHUN BARU 2018 DALAM BINGKAI SYARIAH

MELALUI PERGANTIAN TAHUN DALAM BINGKAI SYARIAH

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun pun ikut berganti. Pergantian tahun akan segera tiba, tahun baru yang identik dengan hura-hura kesenangan dan di rayakan secara massif oleh banyak orang di berbagai belahan dunia, tepat pukul 00.00 akan menjadi moment bergantinya tahun baru masehi. Jika dilihat dari sejarahnya, tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Perayaan Tahun Baru, Adat atau Kebiasaan?
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.
Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi. Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini.  Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb. Hal ini yang telah menjadi kebiasaan orang islam dalam merayakan tahun baru, dan pada dasarnya ummat islam hanya memiliki perayaan Idul Firtri, Idul Adha, serta memiliki agenda tahun baru Hijriah. Inilah yang seharusnya menjadi adat yang harus kita lestarikan, bukan melestarikan kebiasaan yang akan menjadi adat.
Pandangan Hukum Islam terhadap Perayaan Tahun Baru
Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statement ini adalah:
Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,
 “Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)
Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,
 “Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”
Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..
(QS. Al-Mumtahanan: 1)
Ketiga, Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,
 “Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).
Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul fitri dan Idul Adha.
Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.
Keempat, Allah berfirman menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),
 “Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…” Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.

Bagi kita orang Islam, merayakan tahun baru Masehi tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa pekan yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun. Untuk itu kita sebagai ummat muslim yang taat harus bisa memilah dan memilih mana aktivitas yang bertentangan dengan ajaran kita, dan mana yang di anjurkan. Alangkah baiknya jika dalam melalui tahun baru ini kita sama-sama bermunajat kepada Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur yang telah di berikan sehingga kita mampu melalui berbagai ujian, serta cobaan yang menimpa kita sepanjang tahun 2017 yang lalu, biarkan itu menjadi pelajaran kepada kita untuk memerbaiki diri dan ciptakan Aceh sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam Secara Kaffah.

Selasa, 26 Desember 2017

Opini : 13 Tahun Tragedi Tsunami Aceh

Tsunami, Kebangkitan Aceh Menuju Negeri Yang Bermartabat

Peristiwa yang sangat memilukan terjadi di bumi serambi Mekkah, Aceh. Gempa bumi dan Tsunami Aceh yang terjadi pada hari Minggu pagi, 26 Desember 2004. Kurang lebih 700.000 nyawa melayang dalam sekejap di seluruh tepian dunia yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia. Di daerah Aceh merupakan korban jiwa terbesar di dunia dan ribuan banguan hancur lebur serta rata dengan tanah hingga membuat pondasi ikut terangkat, ribuan pula mayat hilang dan tidak di temukan dan ribuan pula mayat yang di kuburkan secara masal.
Gempa terjadi pada waktu tepatnya jam 7:58:53 WIB. Pusat gempa terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer. Gempa ini berkekuatan 9,3 menurut skala Richter dan dengan ini merupakan gempa Bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.
Kekuatan gempa pada awalnya dilaporkan mencapai magnitude 9.0. Pada Februari 2005 dilaporkan gempa berkekuatan magnitude 9.3. Meskipun Pacific Tsunami Warning Center telah menyetujui angka tersebut. Namun, United States Geological Survey menetapkan magnitude 9.2. atau bila menggunakan satuan seismik momen (Mw) sebesar 9.3.
Kecepatan rupture diperkirakan sebesar 2.5km/detik ke arah antara utara - barat laut dengan panjang antara 1200 hingga 1300 km. Menurut Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jan Egeland, jumlah korban tewas akibat badai tsunami di 13 negara (hingga minggu 2/1/2005) mencapai 127.672 orang.
Kejadian ini membuat kita membuka mata dan hati kita bahwa kuasa tuhan itu diatas segala kehendak manusia, tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa agar bisa diberi keselamatan atas tragedi ini. Tsunami juga momentum yang menjadikan Aceh untuk berubah kearah yang lebih baik, Aceh lebih di kenal oleh dunia yang bisa membuat masyarakat bangkit dari keterpurukan setelah dilanda konflik panjang.


Bala Bantuan Sosial Menuju Aceh Bangkit
           


         Pasca terjadinya tsunami, Aceh terus didatangi bantuan baik dari pemerintah nasional maupun bantuan dari negara luar, sekitar 35 negara ikut membantu Aceh dalam pemulihan setelah terjadinya tsunami. Tidak hanya dari instansi pemerintahan yang ikut membantu tapi juga Lembaga Swadaya Masyarakat/Non Goverment Organization baik di dalam dan luar negri terus berdatangan memberikan bantuan baik berupa uang, barang, maupun andil berupa tenaga. Semua orang ikut merasakan apa yang dirasakan Aceh, semua orang datang untuk membantu Aceh. Oleh karenanya pemerintah Indonesia saat itu membebaskan visa untuk warga negara luar yang ingin datang ke Aceh. 
Sebagai langkah untuk percepatan pembangunan serta pemulihan  di Aceh pemerintah juga membentuk suatu lembaga yang di beri nama BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi). Dengan kinaerja semua pihak yang terkait baik instansi pemerintahan, LSM/NGO maupun masyarakat, bersama-sama ikut berbenah menata Aceh yang lebih baik sehingga proses pembangunan dan pemulihan juga lebih cepat.

Tsunami Sebagai Refleksi Kehidupan

Banyak hikmah yang dapat di ambil dari tragedi tsunami, dibalik duka dan pilu yang dirasakan oleh masyarakat Aceh, ada satu harapan yang muncul sebagai upaya menjadikan Aceh lebih bermartabat dimata dunia, ketegaran yang dihadapi sudah cukup membutikan itu semua. Sebagai momentum dalam peringatan 13 tahun tsunami ini, marilah sama-sama kita menjadi insan yang lebih baik lagi dan ambil pelajaran berharga dari setiap kejadian yang menimpa kita dan tujukan bahwa Aceh itu mampu bangkit menuju negri yang bermartabat. 

Rabu, 01 November 2017

Opini : Manusia azas manfaat

Lika-liku kehidupan, tiada yang mengetahui dengan pasti. Semua berjalan dengan apa adanya dan semua mengalir dengan sendirinya, kadang kita bertanya mau kemana arah yang dituju, kadang kita bertanya pada siapa hendak ku mengadu. Kuletakkan tekad bulatku demi menyongsong kearah yang lebih baik lagi. Disini aku dibentuk, disini aku ditempa, dibina, dan dididik menjadi orang yang berguna. Motto hidupku '' Biar hidup sederhana, asal jadi orang berguna" , dapat dimaknai bahwa dalam menjalani dinamika hidup tak perlu dengan ajang sandiwara, hidup hura-hura, mati ingin masuk surga, tapi menjalani hidup apa adanya dengan mengedepankan prinsip sebagai manusia berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. by : eshafarhan09@gmail.com