Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Minggu, 31 Mei 2020

CERITA LEBARAN DI TENGAH PANDEMI II


“Lebaranku suram, karena corona atau ulah negara?”


Penulis : Nia Rahmadhani 

Saya tertarik menyaksikan ulasan dari Mardigu wowik seorang bussinesman yang pernah menjalani study dibidang intelijen, menjelaskan bahwa pandemi Covid – 19 adalah jenis perperangan dunia tanpa senjata, menurutnya herd immunity ditawarkan sebagai salah satu langkah yang paling efektif untuk menekan penularannya. Namun para pemangku kebijakan  mempunyai pandangannya sendiri yaitu dengan penerapan PSBB, Meski penerapannya sudah berlangsung sebelum bulan suci Ramadhan hingga pasca lebaran namun masih belum menampakkan hasil yang signifikan untuk menekan angka penularan, hingga muncul skenario new normal sebagai perwujudan dari harapan presiden Jokowi agar kita segera “berdamai” dengan corona. Insting saya mengkhawatirkan wabah corona ini sengaja ditunggani untuk melancarkan sejumlah kebijakan – kebijakan kontroversial yang bersifat urgent seperti; UU Minerba yang tiba – tiba disahkan, regulasi penggunaan Kartu prakerja, kenaikan iuran BPJS, hingga pembangunan ibu kota baru yang tetap berjalan ditengah kondisi krisis ini. Segudang persoalan itu cukup membuat saya sangat frustasi Sementara Saya sendiri tidak memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menjadi pengkritik yang baik, tapi sebagai warga negara yang merasakan dampak terhadap setiap kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah tentu bukan hal yang nyaman untuk diam saja apabila kebijakan tersebut tidak memberi efek perbaikan atas masalah yang terjadi.
The firts lebaran idul fitri tahun ini saya shalat ied tidak berjama’ah alias sendiri dirumah dikarenakan terlambat datang ke mesjid. Kejadian yang terdengar sangat konyol akibat mood saya ditimpa oleh perasaan sedih menjalani lebaran dengan euforia yang tidak seperti biasanya, selesai shalat saya bermunajat mengadukan perasaan hati yang begitu nelangsa, meneteskan air mata mengiklaskan atas apa yang menimpa kita saat ini, meyakinkan hati saya bahwa semua pasti ada hikmahnya.
Sebagai individu yang merdeka meski disisi lain tengah terkungkung dalam kontrol negara saya terpaksa untuk taat dengan segala kondisi yang diciptakan oleh negara, beberapa diantaranya disaat lebaran ini adalah; gema takbir yang biasanya memeriahkan kampung kini hanya di lantunkan seadanya, melewati hari kemenangan tanpa hiruk pikuk sanak saudara yang biasanya datang dari perantauan, serta menyaksikan semangat silahturrahmi yang memudar dengan dalih virus corona meski kampung saya berstatus zona hijau, dan tradisi libur lebaran dengan jalan - jalan otomatis akan ditiadakan mengingat permberlakuan PSBB, lebaran tahun ini terasa sangat mencekam bagi saya. meski sugesti yang diskenariokan kepada masyarakat mengajak agar tetap bersuka cita meski dirumah aja, hal itu sangat tidak ampuh bagi saya mengingat pemaparan saya pada paragraf pertama,  bagi saya PSBB dan segenap perangkat suksesinya adalah jenis kebodohan/ kesalahan yang diulang – ulang yang diterima sebagai sebuah kebenaran dan lebih picik lagi jika memang dianulir untuk meloloskan kebijakan – kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat.
Meski begitu Orang tua telah mendidik saya bahwa ujian yang kita hadapi meski seberat apapun harus tetap bersyukur, pesan itu kini menguatkan saya. Berusaha keras saya agar tetap open minded dengan semua yang terjadi, saya merenung bahwa ditengah keputus asaan tersebut masih banyak hikmah yang bisa dipetik dari musibah Covid – 19 ini, beberapa diantaranya, yaitu;  menambah intensitas saya untuk berbakti kepada orang tua, saya yang sudah lama menghabiskan waktu untuk kuliah di kota perantauan kini menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk orang tua, membantu beliau menyiapkan semua keperluan menjelang lebaran, dari mulai mengantarkan kepasar, membantu memasak, beres –beres rumah, dll. serta saya merasakan kualitas ibadah yang lebih meningkat dan tentunya terhindar dari penyakit ria. Terakhir, kita semua berharap corona cepat berlalu sehingga lebaran berikutnya tidak dihadapkan pada kondisi yang sama. Amin...

            
           Editor  Penulis : Esha Farhan Manggala

0 komentar:

Posting Komentar