“Lebaranku suram,
karena corona atau ulah negara?”
Penulis : Nia Rahmadhani
Saya
tertarik menyaksikan ulasan dari Mardigu wowik seorang bussinesman yang pernah menjalani study dibidang intelijen, menjelaskan bahwa pandemi Covid – 19
adalah jenis perperangan dunia tanpa senjata, menurutnya herd immunity ditawarkan sebagai salah satu langkah yang paling efektif
untuk menekan penularannya. Namun para pemangku kebijakan mempunyai pandangannya sendiri yaitu dengan penerapan
PSBB, Meski penerapannya sudah berlangsung sebelum bulan suci Ramadhan hingga
pasca lebaran namun masih belum menampakkan hasil yang signifikan untuk menekan
angka penularan, hingga muncul skenario new
normal sebagai perwujudan dari harapan presiden Jokowi agar kita segera
“berdamai” dengan corona. Insting saya mengkhawatirkan wabah corona ini sengaja
ditunggani untuk melancarkan sejumlah kebijakan – kebijakan kontroversial yang
bersifat urgent seperti; UU Minerba yang tiba – tiba disahkan, regulasi
penggunaan Kartu prakerja, kenaikan iuran BPJS, hingga pembangunan ibu kota
baru yang tetap berjalan ditengah kondisi krisis ini. Segudang persoalan itu
cukup membuat saya sangat frustasi Sementara Saya sendiri tidak memiliki
kapasitas yang mumpuni untuk menjadi pengkritik yang baik, tapi sebagai warga
negara yang merasakan dampak terhadap setiap kebijakan yang dilahirkan oleh
pemerintah tentu bukan hal yang nyaman untuk diam saja apabila kebijakan
tersebut tidak memberi efek perbaikan atas masalah yang terjadi.
The firts
lebaran idul fitri tahun ini saya shalat ied tidak berjama’ah alias sendiri
dirumah dikarenakan terlambat datang ke mesjid. Kejadian yang terdengar sangat
konyol akibat mood saya ditimpa oleh
perasaan sedih menjalani lebaran dengan euforia yang tidak seperti biasanya, selesai
shalat saya bermunajat mengadukan perasaan hati yang begitu nelangsa,
meneteskan air mata mengiklaskan atas apa yang menimpa kita saat ini,
meyakinkan hati saya bahwa semua pasti ada hikmahnya.
Sebagai
individu yang merdeka meski disisi lain tengah terkungkung dalam kontrol negara
saya terpaksa untuk taat dengan segala kondisi yang diciptakan oleh negara,
beberapa diantaranya disaat lebaran ini adalah; gema takbir yang biasanya
memeriahkan kampung kini hanya di lantunkan seadanya, melewati hari kemenangan
tanpa hiruk pikuk sanak saudara yang biasanya datang dari perantauan, serta
menyaksikan semangat silahturrahmi yang memudar dengan dalih virus corona meski
kampung saya berstatus zona hijau, dan tradisi libur lebaran dengan jalan -
jalan otomatis akan ditiadakan mengingat permberlakuan PSBB, lebaran tahun ini
terasa sangat mencekam bagi saya. meski sugesti yang diskenariokan kepada
masyarakat mengajak agar tetap bersuka cita meski dirumah aja, hal itu sangat
tidak ampuh bagi saya mengingat pemaparan saya pada paragraf pertama, bagi saya PSBB dan segenap perangkat
suksesinya adalah jenis kebodohan/ kesalahan yang diulang – ulang yang diterima
sebagai sebuah kebenaran dan lebih picik lagi jika memang dianulir untuk
meloloskan kebijakan – kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat.
Meski
begitu Orang tua telah mendidik saya bahwa ujian yang kita hadapi meski seberat
apapun harus tetap bersyukur, pesan itu kini menguatkan saya. Berusaha keras
saya agar tetap open minded dengan
semua yang terjadi, saya merenung bahwa ditengah keputus asaan tersebut masih
banyak hikmah yang bisa dipetik dari musibah Covid – 19 ini, beberapa diantaranya,
yaitu; menambah intensitas saya untuk
berbakti kepada orang tua, saya yang sudah lama menghabiskan waktu untuk kuliah
di kota perantauan kini menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk orang tua,
membantu beliau menyiapkan semua keperluan menjelang lebaran, dari mulai
mengantarkan kepasar, membantu memasak, beres –beres rumah, dll. serta saya
merasakan kualitas ibadah yang lebih meningkat dan tentunya terhindar dari
penyakit ria. Terakhir, kita semua berharap corona cepat berlalu sehingga
lebaran berikutnya tidak dihadapkan pada kondisi yang sama. Amin...


0 komentar:
Posting Komentar