“Pandemi
dan Overthinking”
Penulis : Lady Daratuka Aderof
“In the Chinese language, the word ‘crisis’ is composed of two characters, one representing danger and the other opportunity.” – Allan Pease.
Pandemi,
pandemi, dan pandemi menjadi kata yang tak henti aku baca sejak akhir Desember
2019 hingga saat ini. Semua orang (termasuk saya) pasti pernah mengutuk
keberadaan virus ini atau bagaimana pemerintah ‘berusaha’ melawan virus melalui
kebijakan atau bagaimana masyarakat saling melempar peringatan, nasihat,
ataupun cacian satu sama lain agar mata rantai dapat terputus. Tidak ada satu
orang pun di dunia ini selain mereka yang dianggap sebagai elite global oleh
penganut teori konspirasi yang mengharapkan tamu yang hadir secara
eksponensial ke tubuh manusia ini. Coronavirus atau COVID-19 dengan segala
senjatanya bisa dikatakan menjadi subtitusi perang antar negara karena seluruh
dunia menyatakan perang dengan virus ini, bagaimana sebuah keputusan bisa
menyelamatkan suatu negara.
Tagar
#DirumahAja dan anjuran Physical Distancing menjadi salah satu cara
memutus mata rantai yang diterapkan seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berbagai
prediksi meredanya virus sebelum Hari Raya Idul Fitri 1441 H memberi harapan besar
untuk bisa menikmati momen lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Nyatanya,
tagar #LebaranDirumahAja ‘terpaksa’ menjadi trending kali ini. Momen lebaran
menjadi titik balik saya selama berusaha ‘damai’ dengan virus ini selama tiga
bulan sejak kembali ke kampung halaman. Seperti kutipan yang pertama saya
cantumkan, saya percaya bahwa virus ini mampu membawa dampak positif dan dampak
negatif terhadap diri kita, tergantung bagaimana sudut pandang yang kita imami
saja. Oleh karena itu, saya mau berbagi cerita dampak positif saja karena
bacaan positif akan mampu membawa pikiran yang baik pula.
Pandemi
membuat saya belajar memahami diri sendiri. Belajar bagaimana mengatur emosi
yang saya miliki. Overthinking dan insecure adalah sebagian dari
diri saya, mungkin juga hampir tiap manusia dan saya berusaha mengontrol itu
selama pandemi. Bukan hal mudah tentunya, revisian skripsi yang tak kunjung
selesai, tidak tahu nanti kerja apa karena tidak hanya kita saja yang butuh
kerja, dan sebagainya. Terlebih lagi, potensi overthinking meningkat
karena keberadaan virus ini yang kita tidak tahu kapan akan mereda.
Pemikiran
berlebihan mengenai masa depan yang entah seperti apa ternyata membuat beban
pikiran karena berusaha menciptakan skenario-skenario drama kehidupan yang
abstrak sehingga tiba-tiba secara tidak sengaja merendahkan diri sendiri.
Kalau tidak saya kontrol, saya akan
tumbuh menjadi orang yang toxic bagi orang lain. Mungkin teman-teman di
umur 20-an bisa merasakan ini, apalagi perihal quarter life crisis yang
selalu menjadi momok. Yes, overthinking is ruined everything. Overthinking
pasti membuat kita gusar dan sedih, terlalu cemas, takut, dan sikap negatif
lain. Kita seperti terpenjara oleh pikiran sendiri dan itu tidak sehat sama
sekali.
Sebagai
contoh nyata yang pasti kalian rasakan juga, saya merasa insecure dan overthinking
ketika mengeksplor kisah rekan yang sukses di umur saya sedangkan saya melihat
diri saya belum ada apa-apa nya. Alih-alih jadi semangat malah justru jadinya
merendahkan diri sendiri, apalagi sampai membandingkan diri saya dengan orang
tersebut. Sejatinya, secara psikologis ini tidak sehat sama sekali. Bagaimana bisa sehat kalau ternyata bikin
kepala pusing, mood berantakan dan akhirnya tidak melakukan apapun.
Lalu
bagaimana saya berusaha mengontrol hal tersebut? Ada dua hal yang menurut saya
paling berkesan, yaitu membuat list quote mengenai overthinking dan
membuat list kegiatan yang dari dahulu saya idamkan namun tidak bisa dilakukan.
Terapi ini cukup membuat saya berpikir bahwa masa depan memang perlu
dipikirkan, karena setiap yang berlebihan itu tidak baik, terlebih lagi saya
akan kehilangan waktu saya di masa sekarang.
Pertama,
quote
menarik yang saya temukan ada di kitab agama saya, Al-Qur’an. Jujur, selama
saya membaca Qur’an saya jarang sekali membaca arti, namun entah kenapa saya
secara tidak sengaja membaca arti dari surah Al-Hadid : ayat 20 dimana ayat
tersebut menurut menerangkan bahwa sebagai manusia kita harus mengetahui dan
paham bahwa dunia adalah tempat yang penuh dengan delusi akan kesenangan dan
setiap orang berusaha untuk jadi kaya sehingga lupa akan ampunan yang diberikan
Allah. Kemudian, ayat 22 yang menerangkan bahwa tidak ada bencana yang menimpa
bumi dan manusia di dunia selain semua sudah diatur oleh-Nya jauh sebelum
diciptakan.
Bukan
bermaksud membanggakan agama, tetapi dua ayat tersebut menurut saya dapat
diterapkan oleh siapa saja, tidak memandang latar belakang agama sekalipun.
Kedua ayat tersebut sangat amat menenangkan diri saya yang terlalu sibuk memikirkan setelah lulus
ini mau jadi apa, bagaimana bisa beli rumah padahal tanah semakin lama semakin
mahal, bagaimana nanti bantu orang tua membayar hutang dan lain sebagainya.
Saya percaya bahwa kalau terlalu memikirkan dunia tidak akan ada habisnya, merasa dunia bisa digenggam segalanya itu mustahil. Saya juga percaya bahwa apa yang saya dapatkan saat ini
mungkin saja kebaikan orang-orang yang pernah mampir ke kehidupan saya,
siapapun itu. Saya bersyukur dan mengucap terima kasih melalui tulisan ini ya,
orang baik.
Kedua,
saya
membuat list kegiatan yang saya ingin coba. Mulai dari bullet journaling,
membuat masakan atau kue yang dapat resep dari TikTok, membantu orang
lain dengan rekan melalui donasi, membaca buku hingga mencapai target, menonton
drama korea atau film, dan masih banyak lagi. Kegiatan-kegiatan tersebut secara
tidak langsung mengasah kemampuan saya untuk menjadi kreatif dan lebih peka
terhadap orang lain. Jangan lupa, diskusi dengan rekan dan membaca status
WhatsApp story juga menjadi berita menarik juga untuk disimak, banyak
hal baru yang saya dapatkan entah kabar kawan, berbagai video lucu, curhatan
kebahagiaan dan kesedihan, informasi terkini, ajakan diskusi, dan masih banyak
lagi. Terlebih lagi, saya akhirnya dapat kembali kerumah setelah dua tahun
tidak pulang dari tanah rantau. Bermain dengan adik kecil saya menjadi sebuah
bentuk rasa syukur saya atas kesempatan yang Allah berikan bagi saya. Intinya,
mencoba mengurangi asupan hal-hal yang membuat overthinking adalah
‘koentji’.
Pesan
yang ingin saya sampaikan adalah pikirkanlah masa depan seperlunya, di dunia
ini ada beberapa hal yang tidak bisa kita kendalikan, jadi cukuplah lakukan hal
yang masih bisa di kontrol dan tetap membuat kita bahagia. Untuk menjadi orang
yang bermanfaat, berusahalah untuk setidaknya bermanfaat bagi diri sendiri
dahulu. Selamat menempuh kehidupan, pelan-pelan ya? Ingat, meski saat ini kita
berada di kapal yang berbeda tapi saat ini kita menghadapi badai yang sama kok.
Kamu engga sendiri. Semangat!
Editor Penulis : Esha Farhan Manggala


0 komentar:
Posting Komentar