Distorsi Ondel-ondel Kota Megapolitan DKI Jakarta sebagai
Kebudayaan dan Kebanggaan Betawi : Pelestarian Budaya/Alat Pengais Rezeki ?
Ondel-ondel adalah sebuah pertunjukan rakyat betawi yang
menghiasi pergelaran pesta rakyat ibu kota Jakarta. Mulanya,
ondel-ondel pada zaman dahulu digunakan sebagai penolak bala dan penjaga
kampung. Biasanya ia diarak saat ada pagebluk (wabah) yang melanda kampung, selametan, hajatan besar (Cap Go Meh, dll.) atau sedekah bumi setelah panen raya.
Karenanya bentuk ondel-ondel laki-laki yang asli lebih seram dengan mata
melotot dan adanya gigi taring. Awalnya ia juga dikenal dengan sebutan "barongan". Kata "ondel-ondel" menjadi lebih populer ketika Benyamin Sueb membawakan lagu "Ondel-ondel" pada tahun 1971 dalam irama gambang kromong yang digubah oleh Djoko Subagyo.
Dewasa
ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta-pesta rakyat,
atau diarak untuk mengamen. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel
masih bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta. Jika dahulu
ondel-ondel sangat di junjung tinggi dan ditakuti oleh anak-anak, kini ondel-ondel
sering ditemukan sebagai alat pengais rezeki di jalanan. Tak terurusnya
ondel-ondel menyebabkan penurunan kualitas, entitas, dan identitas dimata
masyarakat.
Hal ini disampaikan dalam penelitian yang dilakukan oleh
Purbasari, Marianto, dan Burhan yang berjudul Membaca Perubahan Tanda
Visual dan Makna pada Ondel-ondel dalam Perkembangan Masyarakat Betawi. Penelitian
ini menyimpulkan bahwa saat masyarakat percaya pada sebuah karya seni sebagai bagian dari kehidupan dan
kepercayaan, maka objek tersebut akan mendapat tempat dan perlakuan yang layak.
Namun, di mata masyarakat kini ondel-ondel hanyalah sebuah boneka besar
penghibur yang digunakan tanpa memperhatikan aturan mainnya.
Dalam Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta nomor 4 tahun
2015 mengatur tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, didalamnya mengatur
tentang melestarika, mengembangkan, pemanfaatan dan pencegahan punahnya
kebudayaan. Namun dalam hal ini pemerintah belum melakukan upaya yang konstan
terhadap fenomena tersebut, disatu sisi ondel-ondel yang ada di jalanan
dibawakan sejumlah kelompok anak-anak muda yang mengarak sepanjang jalan
megapolitan masuk kepertokoan hingga komplek perumahan, ada dua sisi dari
aktivitas tersebut ; Ondel-ondel masih eksis menjadi icon budaya betawi dan di
gemari anak-anak/pemuda atau malah menjadi alat mencari pundi-pundi rupiah karena
tidak adanya ruang-ruang kreasi, pagelaran budaya yang kurang masif, sehingga
ondel-ondel turun kejalan dan menjadi “Pengamen”. Perlunya perhatian khusus
dari pemerintah agar sejarah, kebudayaan betawi ini tetap terjaga dan memiliki marwah serta nilai khusus dihati masyarakat, apalagi banyak anak muda saat ini lebih senang dan
bangga dengan budaya luar ketimbang melestarikan kebudayaan dan adat daerah
sendiri.


0 komentar:
Posting Komentar