Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Selasa, 30 April 2019

Opini : Pabrik Intelektual


INDUSTRIALISASI PENDIDIKAN


Mayday merupakan hari buruh internasional yang diperingati setiap tahunnya di seluruh dunia pada tanggal 1 mei, disahkan dalam kongres sosialis internasional pada tahun 1889 di Paris, Prancis. Agenda yang dilakukan dalam kongres ini selain menetapkan hari buruh, juga mengawal tuntutan 8 jam kerja dan pemenuhan hak serta kebutuhan serikat pekerja agar lebih  sejahtera.

Tuntutan pada mayday tidak hanya menjadi focus di ranah pekerja pabrik dan manufaktur semata, namun juga mengakar keberbagai lintas pekerjaan. Demikian hal yang bisa penulis jabarkan dalam tulisan ini, terdapat pabrik intelektual yang dekat dengan kita, dan pabrik itu bernama Kampus. Sebagai sebuah pabrik atau perusahaan, kampus tentunya memiliki perangkat kerja mulai dari pimpinan perusahaan (CEO) bernama Rektor, Direktur SDM bernama WR I, Direktur Keuangan bernama WR II, Manager bernama WRIII, dan Direktur Peralatan dan Perlengkapan bernama WR IV. Lalu di isi dengan Biro, KABAG, dan Divisi-divisi yang membidanginya.

Dalam menjalankan sistem pabrik pastinya terdapat karyawan atau pekerja, disinilah peran Buruh Intelektual bernama Dosen, yang dapat menghasilakan Produk Intelektual Organik bernama Mahasiswa. Dalam proses pembentukan produk atau barang, kinerja buruh ini menjadi peran yang sangat vital bagi keberlangsungan sebuah pabrik, jika buruh mengerjakan dan membuat produk dengan teliti, serius maka akan menghasilkan produk berkualitas, namun jika buruh tersebut lalai, abai, serta tidak mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) bernama Kurikulum maka dapat dipastikan poduk tersebut akan mengalami produk yang gagal.

Sebelum produk di jual kepasar, pastilah harus melalui serangkaian uji kelayakan, proses terbentuknya yang di olah dan dikembangkan para pekerja, jika produk (Mahasiswa) memiliki Prestasi, menjadi aktivis akademis maka dapat dipastikan akan memiliki daya tawar serta daya jual dipasaran. Namun apabila produk tidak melalui proses yang baik, dan tidak teruji maka dipastikan produk tersebut gagal atau tidak akan laku dipasaran.

Sebagai dampak beroperasinya sebuah pabrik intelektual (Kampus) akan memiliki pengaruh eksternal berupa dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas pabrik, serta dampak terhadap masyarakat apa yang menjadi harapan dengan aktivitas produksi di pabrik tersebut atau malah menjadi tekanan dan beban terhadap masyarakat.

Untuk mendapatkan ekpektasi agar menghasilkan produk yang berkualitas dan bernilai tinggi, sudah pasti pimpinan harus memiliki kebijakan, antara lain ;  1. Memperbaiki fasilitas penunjang operasional, tidak mungkin menghasilkan produk bagus namun dengan alat atau mesin yang sudah usang, 2. Memberikan Punish (Hukuman) bagi pekerja yang lalai dan tidak bertanggungjawab atas pekerjaannya dan Reward (Apresiasi)  serta Bonus / Tunjangan kepada para pekerja yang melakukan tugasnya dengan baik agar memiliki daya saing dan semangat dalam bekerja, 3. Menambah dana riset dan pengembangan produk yang lebih baik.      

Dengan demikian kita harapkan kampus sebagai industri pendidikan, mampu menghasilkan produk intelektual organik yang bisa dipakai dan digunakan di masyarakat, yang dihasilkan oleh keterampilan serta kreativitas buruh intelektual, jika bagus komoditas yang ia hasilkan maka bagus pula brand dan citra pabrik tersebut, namun jika gagal menghasilkan komoditas yang baik maka buruk pula brand dan citra pabrik tersebut.

2 komentar:

  1. Jika Buruh sudah memberikan yang terbaik, si Produk masih merasa mampu untuk meningkatkan Kualitas nya, silahkan berguru dengan "Buruh Online" 😁.

    BalasHapus
  2. Jangan hanya jadi buruh di negara kita sendiri sedangkan asing jadi bos wmwkwkwkw

    BalasHapus