INDUSTRIALISASI
PENDIDIKAN
Mayday merupakan hari buruh internasional
yang diperingati setiap tahunnya di seluruh dunia pada tanggal 1 mei, disahkan
dalam kongres sosialis internasional pada tahun 1889 di Paris, Prancis. Agenda
yang dilakukan dalam kongres ini selain menetapkan hari buruh, juga mengawal
tuntutan 8 jam kerja dan pemenuhan hak serta kebutuhan serikat pekerja agar
lebih sejahtera.
Tuntutan pada mayday tidak hanya menjadi focus
di ranah pekerja pabrik dan manufaktur semata, namun juga mengakar keberbagai
lintas pekerjaan. Demikian hal yang bisa penulis jabarkan dalam tulisan ini,
terdapat pabrik intelektual yang dekat dengan kita, dan pabrik itu bernama
Kampus. Sebagai sebuah pabrik atau perusahaan,
kampus tentunya memiliki perangkat kerja mulai dari pimpinan perusahaan (CEO) bernama
Rektor, Direktur SDM bernama WR I, Direktur Keuangan bernama WR II, Manager
bernama WRIII, dan Direktur Peralatan dan Perlengkapan bernama WR IV. Lalu di
isi dengan Biro, KABAG, dan Divisi-divisi yang membidanginya.
Dalam menjalankan sistem pabrik pastinya
terdapat karyawan atau pekerja, disinilah peran Buruh Intelektual bernama Dosen,
yang dapat menghasilakan Produk Intelektual Organik bernama Mahasiswa. Dalam proses
pembentukan produk atau barang, kinerja buruh ini menjadi peran yang sangat
vital bagi keberlangsungan sebuah pabrik, jika buruh mengerjakan dan membuat
produk dengan teliti, serius maka akan menghasilkan produk berkualitas, namun
jika buruh tersebut lalai, abai, serta tidak mengikuti Standar Operasional
Prosedur (SOP) bernama Kurikulum maka dapat dipastikan poduk tersebut akan
mengalami produk yang gagal.
Sebelum produk di jual kepasar, pastilah
harus melalui serangkaian uji kelayakan, proses terbentuknya yang di olah dan
dikembangkan para pekerja, jika produk (Mahasiswa) memiliki Prestasi, menjadi
aktivis akademis maka dapat dipastikan akan memiliki daya tawar serta daya jual
dipasaran. Namun apabila produk tidak melalui proses yang baik, dan tidak
teruji maka dipastikan produk tersebut gagal atau tidak akan laku dipasaran.
Sebagai dampak beroperasinya sebuah pabrik
intelektual (Kampus) akan memiliki pengaruh eksternal berupa dampak lingkungan
yang ditimbulkan oleh aktivitas pabrik, serta dampak terhadap masyarakat apa
yang menjadi harapan dengan aktivitas produksi di pabrik tersebut atau malah
menjadi tekanan dan beban terhadap masyarakat.
Untuk mendapatkan ekpektasi agar menghasilkan
produk yang berkualitas dan bernilai tinggi, sudah pasti pimpinan harus
memiliki kebijakan, antara lain ; 1. Memperbaiki
fasilitas penunjang operasional, tidak mungkin menghasilkan produk bagus namun
dengan alat atau mesin yang sudah usang, 2. Memberikan Punish (Hukuman) bagi
pekerja yang lalai dan tidak bertanggungjawab atas pekerjaannya dan Reward
(Apresiasi) serta Bonus / Tunjangan kepada
para pekerja yang melakukan tugasnya dengan baik agar memiliki daya saing dan
semangat dalam bekerja, 3. Menambah dana riset dan pengembangan produk yang lebih
baik.
Dengan demikian kita harapkan kampus
sebagai industri pendidikan, mampu menghasilkan produk intelektual organik yang
bisa dipakai dan digunakan di masyarakat, yang dihasilkan oleh keterampilan
serta kreativitas buruh intelektual, jika bagus komoditas yang ia hasilkan maka
bagus pula brand dan citra pabrik tersebut, namun jika gagal menghasilkan
komoditas yang baik maka buruk pula brand dan citra pabrik tersebut.


Jika Buruh sudah memberikan yang terbaik, si Produk masih merasa mampu untuk meningkatkan Kualitas nya, silahkan berguru dengan "Buruh Online" 😁.
BalasHapusJangan hanya jadi buruh di negara kita sendiri sedangkan asing jadi bos wmwkwkwkw
BalasHapus