IDENTITAS
SOSIAL, BUDAYA PADA DINAMIKA GLOBALISASI
DISUSUN
OLEH
Muhammad Rizki
(1610101010002)
PROGRAM STUDI
SOSIOLOGI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
SYIAH KUALA
BANDA
ACEH
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Sebagai
warga Negara Indonesia yang baik seharusnya kita mengerti dan memahami arti
serta tujuan dan apa saja yang terkandung dalam Identitas Nasional. Hal itu
dikarenakan identitas Nasional merupakan
pengertian dari jati diri suatu Bangsa dan Negara, Selain itu pembentukan
Identitas Nasional sendiri telah menjadi ketentuan yang telah di sepakati
bersama. Untuk membentuk identitas nasional kita harus terlebih dahulu kuat
pada identitas sosial dan budaya kita masing masing. Dengan kuatnya identitas
sosial dan budaya maka identitas nasional pun dengan sendirinya akan menjadi
kuat. Maka oleh karena itu mempertahankan atau memperkuat identitas sosial,
budaya maupun nasional merupakan tantangan tersendiri bagi seluruh masyarakat
indonesia. Hal itu disebabkan oleh banyaknya pengaruh globalisasi yang masuk ke
Indonesia dimana pengaruh itu bukan saja mempengaruhi aspek ekonomi, tetapi
juga mempengaruhi sosial dan budaya masyarakat.
Maka
daripada itu mempelajari identitas sosial, budaya sangat penting untuk
mempertahankan identitas nasional di kala banyaknya pengaruh dari globalisasi
yang membuat berbagai macam perubahan yang ada di masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
pengertian identitas sosial dan budaya dalam perspektif sosiologi ?
2. Bagaimana
peranan identitas sosial dan budaya dalam mempertahankan identitas nasional ?
3. Bagaimana
fenomena globalisasi dan hegemoni kapitalis ?
4. Bagaimana
peranan masyarakat dalam mempertahankan identitas nasional di era globalisasi
C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk
mengetahui pengertian identitas sosial dan budaya dalam perspektif sosiologi
2. Untuk
mengetahui Bagaimana peranan identitas sosial dan budaya dalam mempertahankan
identitas nasional
3. Untuk
mengetahui Bagaimana fenomena globalisasi dan hegemoni kapitalis
4.
Untuk mengetahui Bagaimana peranan masyarakat dalam mempertahankan identitas
nasional di era globalisasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Identitas Sosial
Identitas sosial adalah persamaan dan perbedaan,
soal personal dan sosial, soal apa yang kamu miliki secara bersama-sama dengan
beberapa orang dan apa yang membedakanmu dengan orang lain.[1] Ketika
kita membicarakan identitas di situ juga kita membicarakan kelompok. Kelompok
sosial adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari sejumlah orang yang
berinteraksi satu sama lain dan terlibat dalam satu kegiatan bersama atau
sejumlah orang yang mengadakan hubungan tatap muka secara berkala karena
mempunyai tujuan dan sikap bersama; hubungan-hubungan yang diatur oleh norma-norma;
tindakan-tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kedudukan (status) dan
peranan (role) masing-masing dan antara orang-orang itu terdapat rasa
ketergantungan satu sama lain.[2] Identitas
sosial merupakan bagian dari konsep diri seseorang yang didasarkan pada
identifikasinya dengan sebuah bangsa kelompok etnis, gender atau afiliasi
sosial lainnya, identitas sosial sangat penting karena mereka memberi kita
perasaan bahwa kita memiliki tempat dan kedudukan dalam dunia. Tanpa identitas
sosial, kebanyakkan dari kita akan merasa seperti kelereng yang mengelinding
bebas dan tanpa saling terkait antara satu dengan yang lain dalam semesta.[3]
Identitas
sosial dapat meliputi antara lain religi, etnis (suku bangsa), dan kelas
sosial. Identitas etnis merupakan identifikasi individual dengan unit sosial
yang anggotanya mempunyai asal-usul bersama dan berbagi unsur budaya yang sama
dan mereka berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang didasarkan pada unsur
budaya dan asal-usul bersama Identitas etnis akan muncul pada masyarakat yang
kompleks, misalnya masyarakat dengan aparatur negara dan kelas sosial yang
berfungsi membagi masyarakat dalam berbagai kategori. [4]
B. Pengertian Identitas Budaya
Identitas budaya merupakan ciri yang
muncul karena seseorang itu merupakan anggota dari sebuah kelompok etnik
tertentu, itu meliputi pembelajaran tentang dan penerimaan tradisi, sifat
bawaan, bahasa, agama, dan keturunan dari suatu kebudayaan.[5]
Maunati menjelaskan bahwa penanda-penanda identitas budaya misalnya bisa
berasal dari sebuah kekhasan yang diyakini ada pada agama, bahasa, dan adat
pada budaya yang bersangkutan. Namun demikian tumpang tindih dapat terjadi di
antara kelompok-kelompok etnis yang berbeda. Dengan mengikuti sejarah
perjalanan bangsa ini dengan mudah dapat dilihat bahwa persoalan agama,
etnisitas, dan identitas merupakan isu sensitif yang serting kali dapat
dimanipulasi untuk memicu reaksi-reaksi emosional yang sering kali apabila tidak
diantisipasi dengan baik berpotensi menimbulkan hal-hal yang bersifat fatal.[6]
C. Peranan Identitas
Sosial dan Budaya dalam Mempertahankan Identitas Nasional
Dipandang dari padanan katanya, identitas
nasional yang terdiri dari istilah identitas yang berasal dari identity dan
nasional yang berangkat dari kata nation, yang mana identitas (identity) dapat
diterjemahkan sebagai karakter, ciri, tanda, jati diri ataupun sifat khas,
sementara nasional (nation) yang artinya bangsa; maka identitas nasional itu
merupakan sifat khas kepribadian/karakter suatu bangsa. Sigmund Freud
menggariskan bahwa “Character is striving system which underly behavior” yang
berarti bahwa karakter itu adalah kumpulan tata nilai yang mewujudkan dalam
suatu sistem daya juang (daya dorong) yang melandasi pemikiran, sikap, dan
perilaku. Artinya identitas nasional tersebut berada pada kedudukan yang luhur
dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, oleh karena itu sebagai nilai, asas, norma kehidupan
bangsa sudah semestinya untuk dijunjung tinggi oleh setiap warga Negara.[7]
Pada dasarnya setiap individu selalu berlomba
memiliki identitas yang positif di mata kelompok lain untuk mendapatkan
pengakuan dari pihak lain sehingga nantinya mendapatkan suatu persamaan sosial
(sosial equality). Menurut Laker dalam keadaan di mana individu ataupun
kelompok merasa identitasnya sebagai anggota suatu kelompok merasa identitasnya
sebagai anggota suatu kelompok kurang berharga maka akan muncul fenomena misidentification
yaitu upaya mengidentifikasi pada identitas/kelompok lain yang dipandang lebih
baik. [8]
Turner dan Tajfel mengamati bahwa orang
berjuang untuk mendapatkan atau mempertahankan identitas sosial yang positif
dan ketika identitas sosial dipandang tidak memuaskan, mereka akan bergabung dengan
kelompok di mana mereka merasa lebih nyaman atau membuat kelompok di mana
mereka sedang tergabung sebagai tempat yang lebih menyenangkan.[9] Hal
ini mengartikan bahwa fungsi identitas sosial seseorang atau kelompok orang adalah
untuk membantu menemukan jati diri dan rasa percaya diri yang lebih tinggi, efisien,
efektif dan dialektif. Dialektif yang dimaksudkan dalah menyangkut dialog atau
pembahasan penemuan jati diri identitas sosial. Sehingga identitas sosial juga
membantu seseorang untuk mengenali dirinya darimana ia berasal melalui cara
berpikir dan bertindak. Hal ini kemudian membentuk seseorang menjadi agen
sosial, artinya menandakan bahwa seseorang tidak sendirian, tetapi ada orang di
sekelilingnya, dengan dukungan dan solidaritas dari pihak lain dan kelompoknya
sendiri.[10]
Di samping itu Maunati (2004:30)
menjelaskan bahwa penanda-penanda identitas budaya misalnya bisa berasal dari
sebuah kekhasan yang diyakini ada pada agama, bahasa, dan adat pada budaya yang
bersangkutan. Namun demikian tumpang tindih dapat terjadi di antara
kelompok-kelompok etnis yang berbeda. Dengan mengikuti sejarah perjalanan bangsa
ini dengan mudah dapat dilihat bahwa persoalan agama, etnisitas, dan identitas
merupakan isu sensitif yang serting kali dapat dimanipulasi untuk memicu
reaksi-reaksi emosional yang sering
kali apabila tidak diantisipasi dengan baik berpotensi menimbulkan hal-hal yang
bersifat fatal. [11]
Huntington (2003:5-11) meramalkan bahwa
masa depan politik dunia akan semakin mengarah kepada benturan antar
kebudayaan, bahkan antar peradaban. Para ahli meramalkan bahwa dalam era global
isu- isu kebudayaan, agama, etnik, gender, dan cara hidup akan lebih penting
daripada isu tentang konflik ekonomi yang terjadi pada masa industri.[12]
Di tengah munculnya kecenderungan
kehidupan dunia yang makin bergerak ke arah bebas sekat, maka wawasan lokal
makin terintegrasi ke dalam wawasan nasional dan global. Pada masyarakat
Indonesia wawasan kesatuan jiwa “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna kesatuan
dalam keragaman, spirit gotong royong dengan istilah berbeda-beda pada setiap
daerah, seperti sambatan/gugur gunung (Jawa), metetulung (Bali), pelagandong
(Maluku), halawo sato (Nias), mapalus (Minahasa), dan lain-lain dapat diposisikan
sebagai modal budaya yang sangat penting bagi basis kehidupan berbangsa dan
bernegara. Modal budaya Indonesia terdiri dari kebudayaan-kebudayaan asli yang
tersebar dalam kehidupan masyarakat daerah di Indonesia yang mencerminkan
keberagaman, termasuk puncak-puncak kebudayaan daerah yang terhitung sebagai
kebudayaan bangsa, sesuai dengan isi pasal 32 UUD 1945. Oleh karena itu
“kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya
rakyat Indonesia seluruhnya”. Istilah
“rakyat Indonesia seluruhnya” sesungguhnya di dalamnya terimplisit suatu
pernyataan bahwa kebudayaan salah satu suku bangsa belum dapat dikatakan
kebudayaan nasional. Apabila penjelasan itu ditelusuri lebih lanjut, maka
dinyatakan pula bahwa usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab,
budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing
yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta
mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.[13]
Franz Magnis Suseno secara tegas
mengatakan bahwa Indonesia hanya dapat bersatu jika pluralitas yang menjadi
kenyataan sosialnya dihormati. Ke-Indonesia-an dibangun bukan untuk
menghilangkan identitas khas semua komponen bangsa, melainkan agar semuanya
dapat menjadi warga Negara Indonesia tanpa merasa terasing. Sikap saling
menghormati dalam identitas masing-masing, tidak memaksakan kehendak atas
kelompok yang lain merupakan syarat dasar membangun masa depan bangsa
Indonesia.[14]
D. Fenomena Globalisasi Dan Hegemoni Kapitalis
Kata globalisasi diambil dari global yang
maknanya universal. Globalisasi belum memiliki definisi atau pengertian yang
pasti kecuali sekedar definisi kerja sehingga maknanya tergantung pada sudut
pandang orang yang melihatnya. Ada beberapa definisi global yang dikemukakan
oleh beberapa orang sebagai berikut :[15]
a.
Malcom Waters, seorang professor sosiologi dari Universitas Tasmania,
berpendapat, globalisasi adalah sebuah proses social yang berakibat pembatasan
geografis pada keadaan social budaya
menjadi kurang penting yang terjelma di dalam kesadaran orang.
b.
Emanuel Richter, guru besar pada ilmu politik Universtas Aashen, Jerman,
berpendapat, bahwa globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan
yang menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi
kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.
c. Princenton N Lyman, mantan duta besar AS di
Afrika Selatan, berpendapat bahwa globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat
cepat atas saling ketergantungan dan hubungan antara Negara-negara di dunia
dalam hal perdagangan dan keuangan.
d.
Selo Soemardjan, bapak Sosiologi Indonesia, berpendapat bahwa Globalisasi
adalah terbentuknya organisasi dan komunikasi antara masyarakat di seluruh
dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah yang sama.
Sedangkan kapitalisme ialah sistem
perekonomian yang menekankan kepada peran kapital (modal) dengan segala jenisnya,
termasuk barang-barang yang digunakan dalam aktivitas untuk menghasilkan barang
lainnya.[16]
Ebenstein menyebut kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh dan lebih
luas dari sekedar sistem perekonomian. Kapitalisme bergerak sesuai dengan
perkembangan nilai-nilai individualisme. [17]
Secara lebih spesifik, kapitalisme adalah
sebuah sistem yang diciptakan untuk mengembangkan ekspansi komersial melewati
batas-batas lokal menuju ke skala internasional. Pengusaha kapitalis
mempelajari pola-pola perdagangan internasional dengan tujuan untuk
mengakumulasi kapital demi keuntungan sebesar-besarnya. Ebenstein menambahkan
sistem kapitalisme mulai berkembang di Inggris pada abad 18 M dan kemudian
menyebar luas ke kawasan Eropa Barat Laut dan Amerika Utara.[18]
Lalu, jika Hegemoni Bagi Gramsci, hegemoni
bukanlah hubungan dominasi kekuasaan melainkan hubungan persetujuan dengan menggunakan
kepemimpinan politik dan ideologis.[19] Hegemoni
ada sebagai organisasi konsensus.[20]
Gramsci menggambarkan hegemoni sebagai :
1. Orang-orang menyesuaikan diri karena takut
akan konsekuensi berupa sanksi apabila tidak
mampu sesuai dengan sistem.
2.
Orang menyesuaikan diri karena terbiasa mengikuti tujuan-tujuan dengan
cara-cara yang cenderung tetap, dan
beraktivitas sesuai dengan pola-pola tertentu.
3.
Konformitas yang muncul dari tingkah laku mempunyai tingkat-tingkat kesadaran
dan
persetujuan
dengan unsur tertentu dalam masyarakat.[21]
Dalam beberapa tulisannya, Cox memberikan
pandangan terhadap fluktuasi tatanan hegemoni dunia. Cox membedakan tiga
periode struktur yang menghegemoni secara berurutan yaitu : ekonomi
internasional liberal (1789-1873), era imperialisme tandingan (1873-1945) dan
tatanan dunia yang neoliberal (setelah 1945).[22]
Di sisi lain, Cox menambahkan Amerika Serikat yang notabene adalah negara
kapitalis besar muncul sebagai negara yang menghegemoni sistem ekonomi politik serta
tatanan dunia setelah Perang Dunia II dengan rentang waktu dari 1945 hingga
1965.[23]
Dalam mempertahankan hegemoninya di pola hubungan
internasional, Amerika Serikat membuat badan-badan khusus dengan tujuan tertentu.
Amerika Serikat mendirikan National Security Council (NSC) pada 26 Juli 1947
yang berfungsi sebagai badan pertimbangan presiden mengenai integritas dalam
negeri, hubungan luar negeri serta kegiatan militer yang menyangkut keamanan
nasional.[24]
Di sisi lain, Amerika Serikat juga membentuk Central Intelligence Agency (CIA)
sebagai badan intelijen yang bersifat rahasia.[25] CIA
sering melakukan serangkaian agenda subversi terhadap negara-negara yang kurang
bersahabat dengan AS. Beberapa kasusnya antara lain, campur tangannya dalam
pemilihan umum Italia tahun 1948, keikutsertaannya dalam penggulingan pemerintahan
Mossadegh tahun 1953 di Iran dan yang menjadi otak dalam turunnya pemerintahan
Jacobo Arbenz tahun 1954 di Guatemala.[26]
Selain itu, Amerika Serikat juga mendirikan Research and Development
Corporation (RAND Corporation), suatu badan yang bertindak sebagai juru pikir,
gudang tenaga ahli dan sarjana-sarjana terkemuka. RAND Corporation berisi
akademisi-akademisi yang bertujuan untuk memperkokoh hegemoni kapitalisme dalam
tatanan dunia internasional. [27]
Amerika Serikat juga mendirikan Ford Foundation, sebagai lembaga swasta yang
berfungsi untuk menghimpun dana untuk pelaksanaan program-program tertentu.[28]
Sistem kapitalisme yang menghegemoni
tatanan dunia secara langsung juga terjadi di Indonesia. Jika dirunut secara
historis, kolonial Belanda sangat berpengaruh dalam berkembangnya era kapitalisme
selama masa penjajahan.[29]
Kegiatan Belanda dalam konteks eksploitasi ekonomi di kawasan Indonesia dimulai
akhir abad ke-17 dengan maskapai dagang Verenidge Oostindische Compagnie (VOC).
Memasuki abad ke-19, eksploitasi dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Hindia
Belanda sampai berlakunya Undang-Undang Agraria tahun 1870. Dengan pemberlakuan
undang-undang tersebut, kegiatan eksploitasi lebih didominasi oleh pihak swasta
daripada pemerintah kolonial. Sejarah mencatat, dari abad ke-19 hingga
pertengahan abad ke-20, sektor perekonomian dikuasai oleh pihak Eropa khususnya
modal Belanda.[30]
Amerika Serikat sebagai negara kapitalis
besar secara langsung juga menghegemoni tatanan domestik tanah air. Pada tahun
1964, Sejarawan Henry Benda berpendapat bahwa tidak ada negara lain di Asia
Tenggara yang mendapat perhatian, dukungan kelembagaan serta beasiswa individu
yang diberikan Amerika Serikat secara intensif, melainkan Indonesia. [31]
Sejarah mencatat, Amerika Serikat sebagai negara kapitalis besar menggunakan
cara-cara seperti intervensi politik hingga kontrol intelektual dalam memperluas
serta mempertahankan hegemoninya.[32]
Pada tahun 1949 hingga 1960, Amerika
Serikat telah menyalurkan bantuan ekonomi lebih dari $470 juta untuk Indonesia
berkisar pada bantuan teknis, pelatihan partisipan, pinjaman Bank Ekspor-Impor
untuk proyek-proyek infrastruktur serta bantuan Pangan untuk Perdamaian (Food for
Peace). Di satu sisi, Indonesia memgimpor pupuk dan peralatan pertanian dari AS
sebagai langkah yang disebut modernisasi pertanian. [33]Di
kasus lainnya, sejak tahun 1945 hingga 1964 modal Amerika Serikat juga terdapat
di perusahaan minyak bumi multinasional yang ada di Indonesia seperti Shell ($
84 juta), Stanvac ($ 40 juta) dan Caltex ($ 47 juta).[34]
Tampak jelas Indonesia sangat tergantung dengan Amerika Serikat dalam konteks
bantuan luar negeri dan investasi asing.
E. Peranan Masyarakat Dalam Mempertahankan Indentitas Nasional Di Era Globalisasi
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke
dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah
membuat banyak anak muda kita kehlangan kepribadian diri sebagai bangsa
Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan
sehari-hari anak muda sekarang. Dari cara berpakaian banyak remaja-remaja kita
yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya barat. Padahal cara
berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak
ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Tidak banyak remaja yang
mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakian yang sopan sesuai
dengan kepribadian bangsa.[35]
Teknologi internet merupakan teknologi yang
memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi
bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari-hari. Jika
digunakan secara semestinya tentu akan memperoleh manfaat yang berguna. Dan
sekarang ini banyak pelajar dan mahasiswa Teknologi internet merupakan
teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa
saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka
sehari-hari. Jika digunakan secara semestinya tentu akan memperoleh manfaat
yang berguna. yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka
situs-situs porno, bahkan sampai terkena penipuan bukan hanya internet saja,
ada lagi pegangan wajib mereka yaitu hand phone, apalagi sekarang ini mulai
muncul hand phone yang berteknologi tinggi. Mereka justru berlomba-lomba untuk
memilikinya, tapi kita lihat alat musik kebudayaan kita belum tentu mereka
mengetahuinya. Hal ini jika kita lihat dari segi sosial, maka kepedulian
terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih kesibukan
dengan menggunakan hand phone tersebut. Dilihat dari sikap, banyak anak muda
yang tingkah lakunya tidak tahu sopan santun dan cenderung tidak peduli
terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan
sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. jika pengaruh di atas dibiarkan,
mau apa jadinya generasi muda bangsa? Moral generasi bangsa menjadi rusak,
timbul tindakan anarkhis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai jati
diri akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri
dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa
depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki jati diri.[36]
Dari masalah ini semua yang mendasarinya
adalah arus globalisasi yang tak bisa dibendung lagi. Arus globalisasi begitu
cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh
globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut
telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa
Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan
sehari-hari. Dari cara berpakaian banyak remaja-remaja kita yang berdandan
seperti selebritis yang cenderung ke budaya barat. Mereka menggunakan pakaian
yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak
kelihatan. Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan
kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna.
Pendek kata orang lebih suka jika terjadi orang lain dengan cara menutupi
identitasnya. Tidak banyak remaja yag mau melestarikan budaya bangsa dengan
mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Dilihat dari
sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan
cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi
menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati
mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan
yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.[37]
Berdasarkan analisa dan uraian di atas
pengaruh negatif globalisasi lebih banyak dari pada pengaruh positifnya. Oleh
karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi
terhadap nilai nasionalisme. Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak
negatif globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme antara lain:
1. menumbuhkan
semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
2. menanamkan
dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebaik-baiknya
3. menanamkan
dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya.
4. mewujudkan
supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar-benarnya
dan seadil-adilnya.
5. selektif
terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial
budaya bangsa. [38]
Dengan adanya langkah-langkah antisipasi
tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah
nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan
kepribadian bangsa.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pengaruh
globalisasi serta hegemoni kapitalis ialah sesuatu yang tidak mudah lepas bagi
bangsa indonesia , disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan
bangsa Indonesia. Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia
perlahan-perlahan mulai pudar. gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai
interistik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai
globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia.
Cara penanganan agar semua pengaruh tersebut dapat diambil sisi positifnya saja
adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya
bangsa. Maka oleh sebab itu peran identitas sosial dan budaya sangat penting
dalam mempertahankan identitas nasional. Dengan demikian masyarakat bisa terus
mengalami kemajuan modernisasi tanpa harus kehilangan identitas sosial mereka
ataupun identitas budaya nya masing masing. Dengan penguatan kedua identitas
itulah bangsa indonesia bisa mencapai kemajuan yang diharapkan oleh semua
masyarakat.
Daftar pustaka
Alo
Liliweri, 2007, Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya (Yogyakarta: PT LkiS
Pelangi Angkasa)
Bondan
Kanumoyoso, 2001, Nasionalisasi
Perusahaan Belanda di Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan).
Bradley
R. Simpson, 2010, Economist with Guns, ed. Johanes Supriyono (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama)
Budi
Susetyo, 2007, Krisis Identitas Etnis Cina di Indonesia, Skripsi (Kupang: Unika)
Carole
Wade dan Carol Tavris, 2009, Psikologi, edisi 10 (Jakarta: Erlangga)
Cris
Barker, 2011, Cultural Studies: Teori dan
Praktik (Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka)
D.N.
Aidit, 1964, Kibarkan Tinggi Pandji Revolusi (Jakarta: Jajasan Pembaruan, 1964)
Dyah
Satya Yoga Agustin, 2011, Penurunan Rasa
Cinta Budaya dan Nasionalisme Generasi Muda Akibat Globalisasi, Jurnal
Sosial Humaniora, vol 4. No.2,
F.Nopeniti
Nufnini, 2013, (Tabua Ma Tnek Mese, repository.uksw.edu/bitstream/123456789/4020/3/T1_712008034_BAB%2011.pdf)
Huntington,
Samuel P. 2003. Benturan Antarperadaban
dan Masa Depan Politik Dunia.( Yogyakarta: LP3ES)
Ida
Bagus Brata, 2016, Kearifan Budaya Lokal
Perekat Identitas Bangsa, Jurnal Bakti Saraswati Vol. 05 No. 01.
Jabal
Tarik Ibrahim, 2003, Sosiologi Pedesaan (Malang: UMM Press)
Lorens
Bagus, 1996, Kamus Filsafat (Jakarta:
Gramedia)
Lynn
H. Turner dan Richard West, 2008, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan
Aplikasi, (Jakarta: Salemba Humanika)
Martin
Griffiths, 2001, Fifty Key Thinkers in
International Relations, ed. Mahyudin dan Izamuddin Makmur (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada)
Maunati,
Yekti. 2004, Identitas Dayak,
Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. ( Yogyakarta : LKIS )
Maunati, Yekti. 2004,
Identitas Dayak,
Komodifikasi dan Politik Kebudayaan.
(Yogyakarta: LkiS )
Muhamad
Erwin, 2013, Pendidikan Kewarganegaraan
Republik Indonesia, ( PT Refika Aditama)
Nezar
Patria dan Andi Arief, 2003, Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
Nur
Sayyid Santoso Kristeva, 2015, Sejarah Ideologi Dunia (Yogyakarta:
Lentera Kreasindo)
Nurhaidah
& M. Insya Musa, 2015, Dampak
Pengaruh Globalisasi bagi Bangsa Indonesia, Jurnal Pesona Dasar, Vol.3 No.3
Roger
Simon, 2004 , Gramsci’s Political Thought, ed. Kamdani dan Imam Baehaqi
(Yogyakarta: INSIST)
Stephen
Gill, Gramsci, 1993, Historical Materialism and International Relations (New
York: Cambridge University Press)
Suar
Suroso, 2013, Akar dan Dalang
(Bandung: Ultimus)
Suseno,
Franz Magnis. 2005. Berebut Jiwa Bangsa.
(Jakarta: Kompas)
Yinger,
J. M- 1976. "Ethnicity in Complex
Societes". dalam The Use of Controversy in Sociology. (editor L. A.
Coser dan 0. N. Larsen). New York: Free Press.
[1] Cris Barker, 2011, Cultural Studies: Teori dan Praktik
(Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka), hlm : 221
[3]Carole Wade dan Carol
Tavris, 2009, Psikologi, edisi 10 (Jakarta: Erlangga), hlm :310.
[4] Yinger,
J. M- 1976. "Ethnicity in Complex
Societes". dalam The Use of Controversy in Sociology. (editor L. A.
Coser dan 0. N. Larsen). New York: Free Press. Hlm : 200
[5] Alo
Liliweri, 2007, Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya (Yogyakarta: PT LkiS
Pelangi Angkasa) hlm : 221
[6] Maunati,
Yekti. 2004, Identitas Dayak, Komodifikasi
dan Politik Kebudayaan. ( Yogyakarta : LKIS ) hlm : 30
[7] Muhamad
Erwin, 2013, Pendidikan Kewarganegaraan
Republik Indonesia, ( PT Refika Aditama) hlm 41- 42.
[9] Lynn
H. Turner dan Richard West, 2008, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan
Aplikasi, (Jakarta: Salemba Humanika) hlm : 218.
[10] F.Nopeniti Nufnini, 2013, (Tabua Ma Tnek Mese,
repository.uksw.edu/bitstream/123456789/4020/3/T1_712008034_BAB%2011.pdf) (
diakses tanggal 11 – 10 – 2018 )
[11] Maunati, Yekti. 2004, Identitas Dayak, Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. (Yogyakarta: LkiS ) hlm : 30
[12] Huntington,
Samuel P. 2003. Benturan Antarperadaban
dan Masa Depan Politik Dunia.( Yogyakarta: LP3ES) Hlm : 5
[13] Ida
Bagus Brata, 2016, Kearifan Budaya Lokal
Perekat Identitas Bangsa, Jurnal Bakti Saraswati Vol. 05 No. 01. Hlm : 13 –
14
[15] Nurhaidah
& M. Insya Musa, 2015, Dampak
Pengaruh Globalisasi bagi Bangsa Indonesia, Jurnal Pesona Dasar, Vol.3No.3,
hlm : 6-7
[16] Lorens Bagus, 1996, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia) hlm :
67
[17] Nur
Sayyid Santoso Kristeva, 2015, Sejarah Ideologi Dunia (Yogyakarta:
Lentera Kreasindo) hlm : 13
[19] Roger
Simon, 2004 , Gramsci’s Political Thought, ed. Kamdani dan Imam Baehaqi
(Yogyakarta: INSIST) hlm : 16
[20]Ibid, 20
[21] Nezar Patria dan Andi
Arief, 2003, Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
hlm : 126.
[22] Martin Griffiths, 2001, Fifty Key Thinkers in International Relations, ed. Mahyudin dan
Izamuddin Makmur (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada) hlm : 160.
[23] Stephen Gill, Gramsci,
1993, Historical Materialism and International Relations (New York: Cambridge
University Press) hlm : 60.
[24] Suar Suroso, 2013, Akar dan Dalang (Bandung: Ultimus) hlm :
62.
[26] Ibid, 69 - 70
[27] Ibid, 75
[29] Bondan
Kanumoyoso, 2001, Nasionalisasi
Perusahaan Belanda di Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan) hlm : 1.
[31] Bradley
R. Simpson, 2010, Economist with Guns, ed. Johanes Supriyono (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama) hlm : 27.
[34] D.N. Aidit, 1964,
Kibarkan Tinggi Pandji Revolusi (Jakarta: Jajasan Pembaruan, 1964) hlm : 13.
[35] Dyah Satya Yoga Agustin,
2011, Penurunan Rasa Cinta Budaya dan
Nasionalisme Generasi Muda Akibat Globalisasi, Jurnal Sosial Humaniora, vol
4. No.2, hlm: 3 ( diakses tanggal 11 – 10 – 2018 )
[37] Ibid, 6
[38] Ibid, 8


0 komentar:
Posting Komentar