Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Selasa, 30 Oktober 2018

Opini : Pemuda di era Disrupsi





Peran pemuda menghadapi era disrupsi sebagai bagian proses revolusi industry 4.0 menuju globalisasi



Memperingati momentum sumpah pemuda yang sudah di usia 90 Tahun (28 Oktober 1928-2018) menjadikan refleksi bagi kita bahwa pemuda berdampak signifikan bagi kemajuan bangsa, pemuda juga menjadi tonggak sejarah berdirinya Negara Republik Indonesia ini, peran pemuda juga menjadikan Indonesia ini terbebas dari rezim tirani saat orde baru tepat pada 21 Mei 1998 Reformasi besar terjadi di negeri ini. Seiring perkembangan zaman, dimana kita sudah memasuki era modern dengan digitalisasi, teknologi informasi, yang sering disebut era disrupsi, ini harus menjadi perhatian khusus agar generasi muda mampu beradaptasi seiring perkembangan zaman.

Jika kita perhatiakan pemuda hari ini sangat berbeda dengan generasi sebalumnya yang belum mengenal teknologi secanggih saat ini, adapun generasi muda itu dapat kita bedakan menjadi Generasi digital natives dan Generasi Immigrants ; Generasi digital natives adalah generasi yang lahir dimana teknologi sudah berada di lingkungannya (dimulai tahun 1990). Sedangkan generasi digital immigrants adalah generasi yang lahir sebelum 1990.

Saat ini digital natives adalah hal lumrah, karena memang zaman yang berbeda antara generasi digital natives dan digital immigrants membuat mereka beradaptasi

Generasi digital native tidak suka bertele-tele. Menurut Christovita Wiloto yang menulis artikel: Generasi Y & Z dan Matinya “Middle Man”, pemimpin sekarang langsung berkomunikasi dengan rakyatnya. Tidak ada lagi yang namanya perantara. Kalau jaman dulu ada orang yang kaya raya karena bisa menjadi penghubung ke selebriti dan orang-orang yang punya jabatan sampai lingkaran istana, maka sekarang tidak perlu lagi. Lewat media sosial mereka bisa berhubungan langsung menyampaikan keluhan dan ide-idenya.

Teknologi untuk kemajuan bangsa

Pada saat ini teknologi pada era disrupsi, dan berada pada tahapan revolusi industry 4.0 yang menggantukan diri pada Internet of Things (IOT) dan interkonesi digital sudah selayaknya seperti media social, industri, menjadi suatu hal yang memiliki peran penting dalam kehidupan generasi muda dan perkembangannya sangat pesat. Berkembangnya teknologi yang maju pada saat ini berdampak pada semakin terbukanya akses yang semakin meluas. Keadaan ini memicu fenomena globalisasi yang merupakan hasil dari perkembangan teknologi di bidang telekomunikasi yaitu internet dan mobilephone, serta industri pada produk-produk komsumsi yang memberi dampak pada semakin kaburnya batas-batas antar negara dan semakin cepatnya arus global. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara dengan kepadatan penduduknya. Pemuda di Indonesia yang banyak jumlahnya, tentu saja juga memiliki peranan penting bagi bangsa Indonesia yang sedang menata diri untuk menjadi bangsa yang lebih maju. Jika pemuda indonesia yang banyak ini dapat diberdayakan dengan maksimal, tentu saja itu dapat menjadi mata tombak indonesia untuk menuju bangsa yang lebih maju. Ditambah dengan adanya kecanggihan teknologi yang sudah menjadi konsumsi harian pemuda indonesia kini. Dengan didukung populasi yang besar dalam jumlah pengguna internet yang terus meninggkat, Indonesia terus bergerak menjadi ekosistem digital di Asia, dilansir dari data Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) menyebutkan sekitar 143,26 Juta orang Indonesia menggunakan internet pada akhir 2017. Era digital memang menjadi tren positif dalam berbagai hal untuk berinovasi. Bahkan, pekerjaan yang dulunya sangat rumit kini dipermudah oleh teknologi dengan segala kecanggihannya.

Menjadi Pemuda Visioner Fundamental

Dengan berbagai fitur dan segala keelokannya, teknologi hadir menjadi jamur yang mewabah dan liar untuk dikendalikan. Apalagi, diera zaman yang disebut milenial atau generasi Z ini dituntut untuk up to date, instan, praktis, mode, trendi, hingga aktif bermedia sosial. Dengan demikian, pemuda saat ini mesti mengikuti zamannya. Sebab lingkungan yang berubah drastis itu mesti ditanggapi dengan bijak dengan berpikir dan merasakan atas perubahan yang ada. Atau bahkan, kadang kita mesti melakukan sesuatu hal yang tidak biasanya, yakni berpikir dengan hati dan merasakan dengan pikiran.

Oleh karena itu, pemuda tak boleh lengah atas capaian teknologi yang dapat berubah begitu cepatnya. Pemuda harus hadir dari sisi yang lain untuk bermanuver atau bahkan melakukan terobosan-terobosan baru dalam melakukan adaptasi dengan perubahan teknologi. Jika tidak demikian, maka negara dan bangsa ini yang berharap kepada kaum muda untuk mencapai Indonesia Emas tahun 2045 hanya isapan jempol belaka. Butuh kerja keras, kerja nyata dalam menggembleng harkat dan martabat diri kedalam jiwa untuk melakukan tindakan-tindakan kecil yang bisa dipetik dimasa depan.

Sebab pemuda adalah cahaya impian dimasa depan, maka hendaklah mengambil peran dalam berbagai hal. Tidak boleh diam dengan merasa puas atas capaian hari ini, tapi mesti merasakan indahnya masa depan. Bahkan, tidak boleh terlena oleh kenikmatan hari ini, sebab kadang kesuksesan datang ketika berani keluar dari zona nyaman. Salah satunya adalah mengambil peran dalam politik. Sebab kita tahu bersama, tahun ini adalah tahun politik di Indonesia hingga tahun 2019 mendatang. Tentu politik dengan cara-cara yang dibenarkan. Sebab dalam politik sangat erat dan dekat dengan kepentingan sehingga bekalilah diri dengan aturan yang sesuai dengan konstitusi.

Peran yang lain pun tidaklah kalah menariknya, yakni pendidikan. Untuk mencapai Indonesia Emas 2045 tidak bisa digapai hanya dengan bermodalkan satu atau dua orang saja. Melainkan butuh kerjasama dalam perbedaan dan keberagaman, kemudian memayungi diri dengan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Dan ketiga adalah berperan dalam era digital itu sendiri. Jika para pemuda tidak mampu berinovasi dengan melalui teknologi, maka peran yang mesti diambil adalah memanfaatkan teknologi secara bijak dan terarah. Membuat catatan-catatan dimedia sosial yang bermanfaat, hingga mengambil peran dalam melawan hoax. Bahkan, mengambil peran sebagai jurnalis warga melalui media sosial yang bermanfaat untuk orang disekitar akan sangat diapresiasi dibandingkan menjadi pengguna media sosial dengan hanya sekedar up to date. Apalagi sekarang ini ada undang-undang ITE yang dapat menjerat kapan saja bagi yang kurang bijak dan tidak hati-hati.

Mari bersumpah wahai para Pemuda Bangsa untuk mencapai generasi emas 2045 dengan bertindak bukan berteori, bekerja bukan beropini, melakukan hal kecil untuk menemukan hal besar, mengedepankan kejujuran serta integritas, dan mengagungkan kepercayaan atas diri sendiri dan orang lain.


0 komentar:

Posting Komentar