Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Senin, 30 April 2018

Opini : Labour Day


Welcome to May Day, Memaknai Perjuangan Kaum Buruh


Sejarah May Day tidak terlepas dari perjuangan kelas buruh dalam menuntut 8 jam kerja. Abad ke-19 adalah periode di mana kelas buruh dihadapkan pada kenyataan bahwa dari 24 jam sehari, mereka rata-rata bekerja 18 sampai 20 jam. Tak pelak lagi bahwa tuntutan yang diajukan adalah memperpendek jam kerja. Perjuangan menuntut 8 jam kerja ini diawali oleh kaum buruh di Amerika Serikat  pada tahun 1884, yang berbuntut pada penyerangan yang dilakukan oleh negara dan alat kekerasannya. Pada tanggal 1 Mei 1886, 80.000 buruh di Amerika Serikat melakukan demontrasi menuntut 8 jam kerja. Dalam beberapa hari demontrasi ini segera direspon dengan pemogokan umum, yang membuat 70.000 pabrik terpaksa ditutup. Demonstrasi ini berlanjut sampai 4 Mei 1886. Klas penguasa terusik. Dengan alat kekerasannya, negara menembaki pekerja yang melakukan demontrasi dan menewaskan ratusan buruh.

Peristiwa ini telah membawa dampak yang dalam bagi klas buruh di dunia. Karena itu, pada ulang tahun jatuhnya Bastille 4 Juli 1889 (= ulang tahun ke-100 Revolusi Prancis), semua buruh diberbagai negeri berkumpul dan memutuskan resolusi. Isi resolusi tersebut yakni :

“Kongres memutuskan untuk mengorganisir sebuah demonstrasi internasional yang besar, sehingga di semua negara dan di semua kota pada satu hari yang telah ditentukan itu rakyat pekerja akan menuntut pihak berwenang negara hukum pengurangan hari kerja menjadi delapan jam, serta melakukan keputusan-keputusan yang laindari Kongres Paris.Sejak demonstrasi serupa telah diputuskan untuk 1 Mei 1890 oleh Federasi Tenaga Kerja Amerika di konvensi di St Louis, Desember, 1888, hari ini diterima untuk demonstrasi internasional.  Para pekerja dari berbagai negara harus mengorganisir demonstrasi ini sesuai dengan kondisi yang berlaku di setiap negara.”

Pada hari-hari selanjutnya, 1 Mei telah menanamkan dalam benak kaum buruh bahwa mereka tidak sendiri. Jutaan kaum buruh dari seluruh penjuru dunia telah tersatukan menjadi sebuah klas, memotong prasangka ras, suku, etnis kebangsaan, warna kulit, kasta, dan agama. Kaum buruh di berbagai negeri melakukan perlawanan terhadap kekuasaan para boss yang telah mencekik mereka selama bertahun-tahun.

Hari buruh di Indonesia sendiri pertama kali di peringati pada tahun 1920. Namun sejak pemerintahan masa Orde Baru, hari buruh tanggal 1 Mei tidak lagi di peringati di Indonesia. Hal ini lantaran aksi ini dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis. Semenjak peristiwa G30-S pada tahun 1965 aksi ini menjadi ditabukan di Indonesia. Setelah masa orde baru berakhir, tanggal 1 Mei kembali menjadi peringatan hari buruh di Indonesia. Faktanya, kekhawatiran pemerintah bahwa gerakkan massa buruh yang dianggap akan menimbulkan kerusuhan serta mengganggu ketertiban umum tidak pernah terjadi di lapangan. Aksi May Day yang dilakukan buruh malah membuahkan hasil yang baik bagi para buruh di Indonesia. Hingga saat ini, 1 Mei menjadi hari dengan gerakan besar di seluruh Indonesia, gerakan ini terjadi di berbagai kota besar dan kota kecil di seluruh Indonesia.

Menarik nya, gerakan May Day di Indonesia ini juga di ikuti berbagai macam golongan yang bukan hanya para buruh. Mahasiswa, organisasi kepemudaan serta masyarakat umum turun ke jalanan untuk menyerukan kesejahteraan bagi para buruh Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa melalui May Day ini, generasi muda peduli akan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Dan hal ini menjadi bukti bahwa May Day di Indonesia sebagai wujud persatuan dan kesatuan serta wujud semangat besar dari para generasi muda Indonesia. Bahkan hal ini membuktikan tingkat kepedulian dan semangat yang tinggi dari anak - anak bangsa. May Day sendiri menjadi ikhtisar bahwa semangat solidaritas bangsa indonesia dan kepedulian terhadap lapisan masyarakat terhadap kaum buruh, karena tanpa jasa mereka kita tidak akan dapat menikmati barang yang kita pakai di hari ini.


0 komentar:

Posting Komentar