Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Senin, 04 Februari 2019

Opini : Refleksi 72 Tahun HMI


HMI DULU, HMI KINI, DAN HMI NANTI



Sebagai seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ada suatu kebahagiaan dan kebanggaan dapat melihat eksistensi HMI hingga usia yang sudah lebih dari setengah abad ini. 72 tahun bukan merupakan umur yang muda, banyak rintangan dan hambatan yang telah dilalui organisasi ini.

HMI yang berdiri pada hari Rabu Pon 1878, tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1366 H atau bertepatan 5 Februari 1947 yang secara resmi di deklarasikan berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) oleh Lafran Pane bersama 14 orang lainnya yaitu ; Kartono Zakarsy (Ambarawa), Dahlan Husein (Palembang), Siti Zainah (Istri Dahlan Husein, Palembang), Maisaroh Hilal (Cucu Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Singapura), Soewali (Jember), Yusdi Gozali (Semarang, juga pendiri PII), M. Anwar (Malang), Hasan Basri (Surakarta), Marwan (Bengkulu), Tayeb Razak (Jakarta), Toha Mashudi (Malang), Biron Hadi (Kauman-Yogyakarta), Zulkarnaen (Bengkulu), dan Masyur.

Dalam perjalanannya HMI telah berulangkali mengalami fase-fase perjuangan, mulai dari perjuangan berjsenjata melawan penjajahan Belanda merebut kemerdekaan, ikut menumpaskan dan menghadapi pemberontakan PKI, perjuangan reformasi, ikut andil dalam pembangunan negeri ini. HMI juga telah banyak melahirkan banyak tokoh nasional mulai dari Politisi, Akademisi, Praktisi, hingga berbagai sektor yang sentral, yang dapat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa ini.

Namun dewasa ini, HMI terus mengalami gejolak yang tak kunjung usai. Faktor yang paling kentara dihadapi adalah faktor internal, banyak kader HMI hari ini terkungkung dan terjerumus oleh hal-hal yang diluar nalar positifnya, mulai dari perebutan jabatan, kepentingan, hingga saling menjatuhkan antara sesama kader. Hal inilah yang seharusnya dihilangkan penyakit hati yang harus di sucikan kembali dengan nilai-nilai Islam dan keHMIan.

Bagi sebuah organisasi besar seperti HMI atau organisasi lainnya, kritik menjadi refleksi diri untuk selalu melihat bagian-bagian dari kekurangan yang harus diperbaiki dan bagian dari kelebihan haruslah dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Sehingga semangat dalam berorganisasi tersebut selalu sejalan dengan semangat yang diusung setiap zaman dan tidak menghilangkan identitas serta haluan dasarnya.

HMI Sebagai organisasi pengkaderan, latihan kader atau bentuk pelatihan lainnya sebagai ujung tombak kaderisasi, pembentukan watak, karakter, serta mental pemimpin dimasa yang akan datang dan pintu menuju peradaban pemikiran intelektual haruslah terus dirawat hingga nanti. Karena bentuk dari pengkaderan merupakan gerak semangat HMI yang paling utama dan terpenting yang belum luntur. Dan hal ini, patut kita apresiasi. Para keder baru tentulah dikenalkan dengan pemikiran-pemikiran yang kritis, dihadapkan pada tantangan yang akan menguji mentalitas para kader hingga ujian dalam tingkat ekstrem yang menggoda keteguhan iman. Tentulah pengkaderan bukan hanya bentuk indoktrinasi semata. Para kader juga memiliki ruang  untuk memberi penilaian, koreksi, dan sikap atau tindakan dalam menentukan arah serta sikap mereka.

Mari kita doakan di umur HMI yang ke-72 ini, HMI terus memberikan kontribusi nyata untuk perubahan dan kemajuan bangsa, terus melahirkan para kader militan yang mampu menghadapi tantangan zaman di era milenials ini. Jayalah HMI, Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal.

0 komentar:

Posting Komentar