HMI DULU, HMI KINI, DAN HMI NANTI
Sebagai seorang kader Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI), ada suatu kebahagiaan dan kebanggaan dapat melihat eksistensi HMI
hingga usia yang sudah lebih dari setengah abad ini. 72 tahun bukan merupakan
umur yang muda, banyak rintangan dan hambatan yang telah dilalui organisasi
ini.
HMI yang berdiri pada hari Rabu Pon 1878,
tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1366 H atau bertepatan 5 Februari 1947 yang secara
resmi di deklarasikan berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) oleh Lafran
Pane bersama 14 orang lainnya yaitu ; Kartono Zakarsy (Ambarawa), Dahlan Husein
(Palembang), Siti Zainah (Istri Dahlan Husein, Palembang), Maisaroh Hilal (Cucu
Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Singapura), Soewali (Jember), Yusdi
Gozali (Semarang, juga pendiri PII), M. Anwar (Malang), Hasan Basri
(Surakarta), Marwan (Bengkulu), Tayeb Razak (Jakarta), Toha Mashudi (Malang),
Biron Hadi (Kauman-Yogyakarta), Zulkarnaen (Bengkulu), dan Masyur.
Dalam perjalanannya HMI telah berulangkali
mengalami fase-fase perjuangan, mulai dari perjuangan berjsenjata melawan
penjajahan Belanda merebut kemerdekaan, ikut menumpaskan dan menghadapi
pemberontakan PKI, perjuangan reformasi, ikut andil dalam pembangunan negeri
ini. HMI juga telah banyak melahirkan banyak tokoh nasional mulai dari Politisi,
Akademisi, Praktisi, hingga berbagai sektor yang sentral, yang dapat
berpengaruh terhadap kemajuan bangsa ini.
Namun dewasa ini, HMI terus mengalami
gejolak yang tak kunjung usai. Faktor yang paling kentara dihadapi adalah faktor
internal, banyak kader HMI hari ini terkungkung dan terjerumus oleh hal-hal
yang diluar nalar positifnya, mulai dari perebutan jabatan, kepentingan, hingga
saling menjatuhkan antara sesama kader. Hal inilah yang seharusnya dihilangkan
penyakit hati yang harus di sucikan kembali dengan nilai-nilai Islam dan keHMIan.
Bagi sebuah organisasi besar seperti HMI
atau organisasi lainnya, kritik menjadi refleksi diri untuk selalu melihat bagian-bagian
dari kekurangan yang harus diperbaiki dan bagian dari kelebihan haruslah
dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Sehingga semangat dalam berorganisasi
tersebut selalu sejalan dengan semangat yang diusung setiap zaman dan tidak
menghilangkan identitas serta haluan dasarnya.
HMI Sebagai organisasi pengkaderan, latihan
kader atau bentuk pelatihan lainnya sebagai ujung tombak kaderisasi,
pembentukan watak, karakter, serta mental pemimpin dimasa yang akan datang dan
pintu menuju peradaban pemikiran intelektual haruslah terus dirawat hingga
nanti. Karena bentuk dari pengkaderan merupakan gerak semangat HMI yang paling
utama dan terpenting yang belum luntur. Dan hal ini, patut kita apresiasi. Para
keder baru tentulah dikenalkan dengan pemikiran-pemikiran yang kritis,
dihadapkan pada tantangan yang akan menguji mentalitas para kader hingga ujian
dalam tingkat ekstrem yang menggoda keteguhan iman. Tentulah pengkaderan bukan
hanya bentuk indoktrinasi semata. Para kader juga memiliki ruang untuk memberi penilaian, koreksi, dan sikap
atau tindakan dalam menentukan arah serta sikap mereka.
Mari kita doakan di umur HMI yang ke-72
ini, HMI terus memberikan kontribusi nyata untuk perubahan dan kemajuan bangsa,
terus melahirkan para kader militan yang mampu menghadapi tantangan zaman di
era milenials ini. Jayalah HMI, Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu,
Sampaikan dengan Amal.


0 komentar:
Posting Komentar